Warning: session_start(): open(/tmp/sess_a11b8e41fbd8e30e49f8c7baa75bb4a4, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php on line 35

Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php:35) in /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php on line 35

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php:35) in /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php on line 35

Strict Standards: gmmktime(): You should be using the time() function instead in /home/jurnalis/public_html/includes/dates.inc.php on line 5

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/jurnalis/public_html/includes/config.inc.php:35) in /home/jurnalis/public_html/includes/checklogin.inc.php on line 76

Warning: Variable passed to each() is not an array or object in /home/jurnalis/public_html/index.php on line 23

Warning: Variable passed to each() is not an array or object in /home/jurnalis/public_html/index.php on line 28
Pembagian Keuntungan Biodiversitas Harus Sentuh Masyarakat Adat - Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ
 Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Articles

Pembagian Keuntungan Biodiversitas Harus Sentuh Masyarakat Adat
Posted - Jumat, 15 Oktober 2010 02:11 am oleh : Teddy Setiawan
thumbnail

Jakarta – Akses dan pembagian keuntungan tidak hanya dimiliki oleh pemerintah atau koorporasi besar saja, tapi juga harus dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat adat. Terkait dengan itu pada Konferensi mengenai keanekaragaman hayati (Convention on Biological Diversity/CBD) ke X di Nagoya Jepang mendatang, diharapkan finalisasi persetujuan protokol mengenai akses dan pembagian keuntungan juga harus mencakup kekayaan intelektual tradisional didalamnya.

Yang kita minta dari pembagian keuntungan ini adalah, ketika keanekaragaman hayati yang berasal dari Indonesia di patenkan oleh bangsa lain, keuntungan dari hasil itulah nantinya yang akan kita minta,” demikian dikatakan oleh juru bicara dari Wildlife Conservation Society (WCS), Harry Alexander pada acara dialog antara rekan SIEJ dan Kehati, di Jakarta (14/10/10).

Dalam kesepakatan yang ditargetkan tersebut berarti pemegang paten adalah bukan bagi pendaftar duluan. Akan tetapi, tergantung dari mana berasalanya sebuah genetik tersebut. “Artinya, jika sumber biodiversitas itu berasal dari Indonesia, maka Indonesia juga berhak minta bagian keuntungan dari pemanfaatan biodiversity tersebut,” tambah Harry.

Karena di situ industri mereka yang akan berkembang dan akan mendapatkan keuntungan yang besar juga,” jelas Harry.

Menurut Harry, yang menjadi masalah saat ini adalah di Amerika bisa membuat paten 5000 biodiversitas dalam satu tahun. Sedangkan di Indonesia hanya bisa membuat paten sebanyak 40 dalam satu tahun. Untuk itu, lanjutnya, kesepakatan protokol akses dan pembagian keuntungan ini sangat penting bagi Indonesia, agar jangan sampai kehilangan keanekaragaman hayati yang dimiliki.

Ke depan, masalah pembagian ini tidak hanya dimiliki oleh pemerintah atau koorporasi besar saja, tapi juga harus dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat adat. Artinya koorporasi besar boleh saja menanmkan investasinya, tapi pengetahuan pemanfaatan sumber daya genetik ini telah lama dilakukan oleh masyarakat.

Jadi, ini tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan lokal, dan manfaat sumber daya genetik ini seharusnya juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lokal,” ujarnya.

Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara menyatakan sebagai negara yang ikut mendatangani, Indonesia seharusnya wajib mengimplementasikan berbagai kesepakatan CBD. Namun, faktanya, hingga saat ini angka kemerosotan biodiversity di Indonesia terus terjadi, walaupun upaya pelestarian tetap dilakukan.

Seperti pada kasus inventarisasi keanekaragaman hayati di sungai Cisadane, hanya dalam jangka waktu kurang dari lima tahun, jumlah biodiversitas yang ada disungai tersebut menyusut dari yang semula berjumlah 218 jenis menjadi hanya 56 jenis saja,” papar Endang.

Lebih jauh Endang mengharapkan untuk menghindari berbagai masalah terkait biodiversitas ini, maka disarankan berbagai pihak seharusnya hanya menyetujui kerjasama pada jenis biodiversitas yang telah diidentifikasi secara ilmiah.

Sementara itu mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim menyatakan konteks pemanfaatan keanekaragaman hayati saat ini sudah saatnya berubah. Dari yang semula menunggu kebijakan dari pemerintah, menjadi upaya kesadaran yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.

"Dengan memanfaatkan biodiversitas milik Indonesia semaksimal mungkin, maka daya kompetisi bangsa ini juga akan meningkat pesat, serta menumbuhkan jati diri bangsa," urai pakar ekonomi lingkungan yang juga pernah menjadi Direktur Eksekutif pertama yayasan Kehati tersebut.

Dengan berbagai keterlibatan secara langsung dalam upaya menjaga biodiversitas alami Indonesia selama puluhan tahun, Emil Salim pada Konferensi CBD mendatang akan diganjar hadiah Midori. Penghargaan tersebut merupakan bukti kerja keras Emil Salim dalam upaya turut menjaga dan memanfaatkan biodiversitas alami menjadi berdaya guna bagi manusia. (ted/sps)



Related Article :
 

have 0 comments Leave comment here

 
More
Articles
  • Sorry, articles still empty...

  • Sorry, articles still empty...


Warning: Unknown: open(/tmp/sess_a11b8e41fbd8e30e49f8c7baa75bb4a4, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0