Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Articles

Sampah Ancaman Terbesar Terumbu Karang Kepulauan Seribu
Posted - Kamis, 10 Mei 2012 07:27 am oleh : adi
thumbnail
Terumbu karang di Kepulauan Seribu terancam sampah Jakarta, dan semakin parah sejak 10 tahun terakhr. Tak ada tindakan berarti.  SIEJ, 9 Mei - Daerah primadona terumbu karang seperti Kepulauan Seribu, makin menderita karena sampah.  Dari pengamatan beberapa aktivis lingkungan pada awal April lalu, sampah dari Teluk Jakarta tampak mengotori Pulau Ayer, Pramuka, Bidadari, Lancang, Untung Jawa dan Pulau Pari.  Sampah itu beragam jenisnya, tetapi yang paling mengkhawatirkan tentu saja sampah plastik, karena gampang ditelan oleh biota laut dan sangat lama terurai. 

Menurut Slamet Daroyni, staf khusus reklamasi pada Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), dengan rata-rata 10 juta penduduk Jakarta saja, kita bisa menghasilkan kurang lebih 500 ton sampah/hari. "Sampah ini adalah hasil kegiatan manusia di darat, tapi karena keburukan pengelola sampah di Jakarta sehingga sampah itu larinya ke laut," ungkapnya saat ditemui SIEJ di kantor KIARA.

Sampah organik menyebabkan laut pada kadar tertentu akan kelebihan protein, sehingga menimbulkan  pertumbuhan luar biasa (blooming) biota laut tertentu, atau sebaliknya menghambat pertumbuhan biota dasar seperti karang atau vegetasi pantai seperti mangrove dan padang lamun. Sedangkan sampah anorganik memiliki zat-zat kimia yang dapat menyebabkan perairan tidak jernih. Akibatnya hewan yang ada disekitar koloni karang akan mati. Padahal tanpa persoalan sampah pun, data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2008 menyebutkan, hanya 30 persen terumbu karang Indonesia dalam kondisi baik, 37 persen dalam kondisi sedang, dan 33 persen rusak parah.

Untuk mengurangi produksi sampah, seharusnya masyarakat harus bisa lebih bijak lagi dalam memilih produk yang ramah lingkungan. Kata Sarwono Kusumaatmadja, yang mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Kelautan dan Perikanan, masyarakat harus bisa lebih kritis untuk meminimalisir sampah seperti, jika pergi ke toko atau berbelanja, usahakan membawa tas sendiri agar tidak menerima plastik. "Jika seribu orang tiap hari berbuat seperti itu, berarti akan banyak kantong plastik yang berkurang," tuturnya.

     

    have 0 comments Leave comment here

     
    More
    Articles
    • Sorry, articles still empty...

    • Sorry, articles still empty...