Menurut Slamet Daroyni, staf khusus reklamasi pada Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), dengan rata-rata 10 juta penduduk Jakarta saja, kita bisa menghasilkan kurang lebih 500 ton sampah/hari. "Sampah ini adalah hasil kegiatan manusia di darat, tapi karena keburukan pengelola sampah di Jakarta sehingga sampah itu larinya ke laut," ungkapnya saat ditemui SIEJ di kantor KIARA.
Sampah organik menyebabkan laut pada kadar tertentu akan kelebihan protein, sehingga menimbulkan pertumbuhan luar biasa (blooming) biota laut tertentu, atau sebaliknya menghambat pertumbuhan biota dasar seperti karang atau vegetasi pantai seperti mangrove dan padang lamun. Sedangkan sampah anorganik memiliki zat-zat kimia yang dapat menyebabkan perairan tidak jernih. Akibatnya hewan yang ada disekitar koloni karang akan mati. Padahal tanpa persoalan sampah pun, data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2008 menyebutkan, hanya 30 persen terumbu karang Indonesia dalam kondisi baik, 37 persen dalam kondisi sedang, dan 33 persen rusak parah.
Untuk mengurangi produksi sampah, seharusnya masyarakat harus bisa lebih bijak lagi dalam memilih produk yang ramah lingkungan. Kata Sarwono Kusumaatmadja, yang mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Kelautan dan Perikanan, masyarakat harus bisa lebih kritis untuk meminimalisir sampah seperti, jika pergi ke toko atau berbelanja, usahakan membawa tas sendiri agar tidak menerima plastik. "Jika seribu orang tiap hari berbuat seperti itu, berarti akan banyak kantong plastik yang berkurang," tuturnya.
Articles
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...

have 0 comments 
