Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Articles

Dibunuh Karena Mitos
Posted - Rabu, 04 Juli 2012 8:00 pm oleh : adi
thumbnail
Puluhan ekor primata dibunuh setiap bulannya, dimakan  daging, otak dan alat kelaminnya hanya karena mitos. 

SIEJ-Jakarta. Aktivis ProFauna melakukan aksi protes di Depan Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat pada pukul 10 pagi hari ini (04/07). Unjuk rasa dilakukan atas protes perdagangan daging primata yang marak terjadi di Jakarta dan Palembang.

Menurut catatan ProFauna dan International Primate Protection League (IPPL) terdapat puluhan ekor primata yang dibunuh untuk dikonsumsi daging dan otaknya setiap bulannya. "Perdagangan ini cukup tinggi terutama di daerah Jakarta dan Palembang", ungkap Irma Hermawati, Koordinator ProFauna Jakarta saat aksi.

Jenis primata yang paling banyak diminati adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Sebagian besar konsumen otak monyet ini berasal dari pelaut Cina, Taiwan, Vietnam, dan Korea yang sedang berlabuh di Palembang. Menurut ProFauna, harga otak monyet di Palembang dihargai Rp 350.000, sedangkan di Jakarta untuk otak monyet dihargai Rp 300.000 sampai Rp 500.000 dan sate monyet dihargai Rp 40.000 hingga Rp 100.000 per porsi.

"Karena sebagian besar konsumen percaya mitos, dengan memakan daging atau otak monyet dapat berkhasiat untuk meningkatkan vitalitas", kata Irma, "tentu saja kepercayaan ini belum terbukti secara ilmiah". Ia juga menambahkan bahwa primata juga dapat membawa zoonosis. Zoonosis yaitu infeksi yang ditularkan di antara hewan dan manusia. Karena itu, mengkonsumsi daging monyet justru dapat menimbulkan penyakit berbahaya.

Seperti juga yang diungkapkan para ilmuwan Kamerun, Afrika pada media massa, bahwa tiga perempat dari semua virus manusia diketahui berasal dari hewan. Kerentanan ini sebagian besar dibawa oleh primata. Seperti Virus Human Immunodeficiency (HIV) kini banyak diyakini berasal dari simpanse. Kera juga dikenal menjadi tuan rumah virus yang mematikan lainnya, seperti ebola, anthrax, demam kuning, dan virus potensial lainnya belum ditemukan.

Selain dibunuh untuk dikonsumsi, perdagangan untuk satwa peliharaan juga marak terjadi. Menurut ProFauna, jenis yang paling banyak diminati adalah primata yang dilindungi, seperti kukang (Nycticebus sp) dan siamang (Hylobates syndactylus). Perdagangan ini terpusat di Pasar Burung 16 Ilir, Palembang dan kawasan Jalan Mangga Besar, dan Lokasari, Jakarta Barat.

Pada hari yang sama, ProFauna juga telah bertemu dengan pihak Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) untuk menindaklanjutin tindakan hukum yang harus diambil terhadap pelaku perdagangan primata termasuk bagi jenis primata yang tidak dilindungi. "Pihak Direktorat PKHA saat ini masih membutuhkan bukti otentik atau bukti lain sebagai informasi lebih lanjut untuk mengambil tindakan apa selanjutnya", kata Irma, "harapan kami, PKHA dapat mengambil tindakan hukum dan tegas terhadap perdagangan satwa dilindungi maupun tidak".  Cita Ariani

     

    have 0 comments Leave comment here

     
    More
    Articles
    • Sorry, articles still empty...

    • Sorry, articles still empty...