Pada permulaan abad ke-20, manusia kelaparan di Cina lebih banyak dari jumlah penduduk yang kekurangan pangan di seluruh dunia. Akhir abad 20, Cina berhasil menyuplai 22 persen kebutuhan makanan dunia. Padahal luas daerah pertanian Cina hanya 7 persen dari total lahan pertanian dunia.
Cina terdepan dalam pertanian organik, penggunaan lahan sangat efisien dan sedikit menghasilkan sampah. Pertanian menjadi industri masif, mempekerjakan sekitar 300 juta penduduk dengan upah rendah. Cina adalah negara yang memiliki sistem irigasi terbesar di dunia, menghasilkan sepertiga produksi beras dunia. Negara ini juga menduduki peringkat pertama sebagai penghasil gandum, sorgum, kacang-kacangan, teh, milet, barley, minyak bebijian, daging babi dan ikan.
Jumlah buruh yang besar memungkinkan penanaman satu jenis holtikultura secara intensif. Kacang-kacangan dan legum yang menghasilkan nitrogen bagi tanah, ditanam bergantian dengan gandum yang membutuhkan nitrogen banyak. Jumlah buruh yang luar biasa juga memungkinkan pengelolaan hama lebih baik. Pestisida disemprotkan untuk hama spesifik. Ini berbeda dengan pertanian di negara maju yang menyemprotkan berbagai pestisida untuk banyak hama.
Reformasi pertanian Cina memperlihatkan hasil sejak tahun 1978 ketika kepemilikan tanah dikembalikan kepada individu dan menerapkan kuota hasil panen sebagai pembayaran kolektif untuk peralatan, hewan, benih dan keperluan pertanian lainnya. Mulai tahun 1984 pemerintah melakukan reformasi ekonomi diantaranya liberalisasi harga dan pemasaran produk pertanian.
Cina melakukan penghijauan secara besar-besaran namun masih terkendala dengan kebutuhan kayu bakar. Jalan keluarnya adalah menjalankan program kompor biogas, sumber energinya adalah kotoran manusia, sampah dan sisa tanaman. Cara ini dilakukan di setiap desa dan berhasil menyuplai setengah dari kebutuhan energi.
Sistem Cina tidak dapat diterapkan di negara maju atau yang mempunyai upah buruh tinggi. Namun model pertanian yang menghasilkan panen melimpah dapat ditiru terutama oleh negara berkembang yang masih berhadapan dengan kelaparan. (Entin Supriati, berbagai sumber).
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


