Kementerian Kehutanan akan menghentikan pemberian izin di area lahan gambut di seluruh Indonesia. Tekad ini selaras dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Pertanian guna melindungi hutan gambut berdasar hukum yang berlaku.
Menurut keputusan Presiden RI yang tercantum pada pasal 52 dan pasal 55 Keputusan Presiden No. 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung: Semua area lahan gambut yang berkedalaman lebih dari tiga meter harus dilindungi dan ketiga Menteri menyatakan bahwa akan melindungi semua area lahan gambut, termasuk yang dalamnya kurang dari tiga meter.
“Menteri Kehutanan dan Menteri Pertanian pekan ini telah menyatakan pentingnya perlindungan terhadap lahan gambut. Menghentikan perusakan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dan pulp and paper adalah langkah sangat besar bagi kita untuk mencapai komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menurunkan emisi Indonesia hingga 41 persen pada 2020,” ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace.
Dikatakan Joko Arif, niat ini harus direalisasikan menjadi langkah nyata secepatnya, karena perusahaan terus melakukan pembukaan dan pengeringan di hutan lahan gambut termasuk di daerah yang masuk kategori didalam Keputusan Presiden seperti di Semenanjung Kampar.
Menteri Lingkungan Hidup saat ini sedang melakukan peninjauan Peraturan Pemerintah (PP) terkait dengan lahan gambut dan memangku mandat besar untuk melakukan audit lingkungan, penegakan hukum, investigasi dan sanksi administratif. (Farida Indriastuti, rilis Greenpeace).
Jenis tanah yang bermula dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk, karena itu kandungan bahan organiknya tinggi. Tanah yang terutama terbentuk di lahan-lahan basah ini dalam bahasa Inggris disebut peat. Di Indonesia, nama gambut berasal dari bahasa daerah Banjar.
Gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan 4 trilyun meter kubik, terhampat di kawasan seluas 3 juta kilometer persegi atau 2 pesen luas daratan, mengandung potensi energi sekira 8 miliar terajoule.
Deposit gambut tersebar di banyak tempat terutama di Rusia, Belarusia, Ukraina, Irlandia, Finlandia, Estonia, Skotlandia, Polandia, Jerman utara, Belanda, Skandinavia. Amerika Utara, khususnya di Kanada, Michigan, Minnesota, Everglades di Florida, dan di delta Sungai Sacramento-San Joaquin di Kalifornia. Kandungan gambut di belahan bumi selatan lebih sedikit, karena memang lahannya lebih sempit. Gambut ada di Indonesia, Selandia Baru, Kerguelen, Patagonia selatan/Tierra del Fuego dan Kepulauan Falkland.
Sekitar 60 persen lahan basah di dunia adalah gambut; dan sekitar 7 persen dari lahan-lahan gambut itu telah dibuka dan dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian dan kehutanan. Manakala kondisinya sesuai, gambut dapat berubah menjadi sejenis batubara setelah melewati periode waktu geologis.
Luas lahan gambut di Sumatra diperkirakan berkisar antara 7,3–9,7 juta hektare atau kira-kira seperempat luas lahan gambut di seluruh daerah tropika. Menurut kondisi dan sifat-sifatnya, gambut dapat dibedakan atas gambut topogen dan gambut ombrogen.
Gambut topogen ialah lapisan tanah gambut yang terbentuk karena genangan air yang terhambat alirannya karena berada di tanah-tanah cekung di belakang pantai, di pedalaman atau di pegunungan. Jenis ini umumnya tidak begitu dalam, sekitar 4 meter, airnya tidak begitu asam dan relatif subur. Zat hara tanah berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai.
Gambut ombrogen lebih banyak, meski bermula sebagai gambut topogen. Gambut ombrogen lebih tua umurnya, lebih tebal sekitar 20 meter, permukaan tanah lebih tinggi dari sungai terdekat.
Kandungan hara tanah terbatas, bersumber dari lapisan gambut dan air hujan, sehingga tidak subur. Sungai-sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air yang keasamannya tinggi (pH 3,0–4,5), mengandung banyak asam humus dan warnanya coklat kehitaman seperti warna air teh yang pekat. Itulah sebabnya sungai-sungai semacam itu disebut juga sungai air hitam.
Gambut ombrogen banyak terbentuk tidak jauh dari pantai. Tanah gambut ini kemungkinan bermula dari tanah endapan mangrove yang mengering. Kandungan garam dan sulfida yang tinggi mengakibatkan hanya sedikit dihuni oleh jasad-jasad renik pengurai.
Penelitian di Sarawak memperlihatkan bahwa gambut mulai terbentuk di atas lumpur mangrove sekitar 4.500 tahun yang lalu. Mulanya dengan laju penimbunan sekitar 0,475 meter per 100 tahun pada kedalaman 10-12 meter, kemudian menyusut hingga sekitar 0,223 meter per 100 tahun pada kedalaman 0–5 meter.
Semakin tua hutan di atas tanah gambut, tumbuh semakin lamban karena kurang zat hara. Tidak sedikit lahan gambut ombrogen dialihfungsikan. Seperti kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dibangun diatas lahan gambut ombroge. (Entin Supriati, sumber Wikipedia).
Iklim global tidak pernah sama. Jutaan tahun lalu, sebagian wilayah dunia yang kini lebih hangat, dahulunya tertutupi es. Beberapa abad terakhir, suhu rata-rata telah naik turun secara musiman, sebagai akibat fluktuasi radiasi matahari atau letusan gunung berapi.
Namun, yang baru adalah bahwa perubahan iklim yang ada saat ini dan yang akan datang bukan disebabkan oleh peristiwa alam melainkan lebih karena aktifitas manusia. Kemajuan pembangunan ekonomi memberikan dampak serius terhadap iklim dunia. Antara lain melalui pembakaran secara besar-besaran seperti batu bara, minyak, kayu, serta pembabatan hutan.
Kerusakannya terjadi melalui produksi gas rumah kaca, dinamakan demikian karena gas-gas itu memiliki efek yang sama dengan atap sebuah rumah kaca. Gas-gas itu memungkinkan sinar matahari menembus atmosfir bumi sehingga menghangatkan bumi. Tetapi gas-gas ini mencegah pemantulan kembali sebagian udara panas ke ruang angkasa. Sehingga bumi dan atmosfir secara perlahan menjadi panas.
Istilah rumah kaca diambil dari cara bertani di negara beriklim sedang. Sebagai perlindungan dari udara dingin, sayuran ditanam dalam bangunan yang seluruhnya terbuat dari panel kaca.
Ketika sinar matahari menembus kaca akan meningkatkan suhu di dalam ruang. Udara panas tidak segera turun dengan cepat karena radiasi di dalam rumah kaca berbeda, memiliki gelombang lebih panjang dan terhambat oleh kaca.
Tidak perlu rumah kaca untuk merasakan efek yang sama. Sinar matahari yang menembus kaca pada ruangan tertutup akan menyebabkan udara panas terperangkap. Seperti halnya mobil yang parkir di tempat panas dan semua jendela tertutup rapat, panasnya akan bertahan lama bahkan kemudi menjadi sangat panas untuk disentuh.
Efek rumah kaca global dianggap membahayakan. Padahal masalahnya adalah soal seberapa tinggi derajat panas tersebut. Tanpa karbon dioksida di udara untuk memerangkap sebagian panas, maka suhu rata-rata bumi akan berkisar -18°C, terlalu dingin bagi kehidupan. Sayangnya, saat ini jumlah karbondioksida di atmosfir menumpuk berlebihan.
Badan dunia yang bertugas memonitor isu ini yaitu Intergovernmental Panel on Climate Change(IPCC) memperkirakan antara tahun 1750 dan 2005 konsentrasi karbon dioksida di atmosfir meningkat dari sekitar 280 ppm (parts per million) menjadi 379 ppm per tahun. Konsentrasinya meningkat terus dengan kecepatan 1,9 ppm per tahun. Maka pada ahun 2100 nanti suhu global dapat naik antara 1,8 hingga 2,9 derajat Celcius.
Kenaikan suhu itu mungkin terlihat tidak terlalu tinggi. Tetapi di negara tertentu seperti Indonesia, dapat memberikan dampak yang parah dan terutama pada penduduk paling miskin.
Iklim global merupakan suatu sistem yang rumit. Pemanasan global berinteraksi dengan berbagai pengaruh lainnya. Di Indonesia, perubahan ini memperparah berbagai masalah iklim yang sudah ada. Seperti banjir, kemarau panjang, angin kencang, longsor, dan kebakaran hutan. (Entin Supriati, sumber UNDP Indonesia).
Lahan gambut Indonesia tidak pernah berhenti menggoda nafsu ekonomi dan kekuasaan. Paling menggegerkan adalah proyek ambisius di Kalimantan Tengah tahun 1995. Saat itu Presiden Suharto memerintahkan pencetakan sejuta hektar sawah baru diatas lahan gambut.
Setelah berjalan dua tahun proyek yang diperintahkan oleh dua Keppres itu menghasilkan kerusakan lingkungan yang amat parah. Tahun 1998 proyek itu dikaji ulang dengan melibatkan pakar gambut, lahan basah dan perguruan tinggi. Salahseorang pakar pertanian, Prof Tejoyuwono dari Universitas Gadjah Mada menyebutkan, timnya ditugaskan untuk menyelamatkan lahan gagal proyek dari kehancuran total.
Seperti dikutip dari wawancara dengan harian Suara Pembaruan beberapa waktu lalu, Prof Tejoyuwono menyebutkan maslahat terbesar lahan gambut adalah potensi dijadikan sawah karena selalu tersedia air. Biaya mengelola air lebih murah daripada mencetak sawah di dataran tinggi. Padi basah, palawija, pisang dan nenas cukup prospektif dibudidayakan di lahan gambut.
Namun perlu dipertimbangkan bahwa tidak semua lahan basah dapat difungsikan ekonomi karena fungsi alamiahnya tidak boleh diganggu. Yakni pengaturan hidrologi, sanitasi, lingkungan, penopang kehidupan ikan, mengekang pelepasan karbondioksida ke atmosfir. Kalau fungsi hidrologi menurun, air tanah dan permukaan menjadi liar. Cadangan air musim kemarau dan hujan berfluktuasi tajam. Keadaan ini dengan sendirinya merusak lingkungan.
Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) menyebabkan kerusakan lingkungan salahsatunya karena dijadikan satu kesatuan operasi fisik dengan konsep yang seragam. Keanekaan ciri dan perilaku kawasan tidak diperhitungkan. Pengembangan lahan tidak dijalankan berurutan. Lahan yang belum menjalani proses reklamasi secara benar sudah dijadikan lahan pertanian lengkap dengan pupuk kimia dan kapur.
Seluruh rancangan tata air, dikerjakan tanpa data dasar mengenai tanah, iklim, hidrotoporafi, perilaku hidrolika sungai-sungai utama, rawa dan air bumi di lahan basah. Pembuatan tata saluran dan jejaring menggunakan kontruksi rekayasa sipil.
Fakta lain bahwa hanya 40 persen wilayah PPLG yang bertanah gambut menurut kinerja klasifikasi tanah. Selebihnya adalah gambutan dan tanah aluvial marin yang sama sekali tidak memiliki lapisan gambut. Lahan PPLG sebenarnya adalah lahan basah. Kesalahan penamaan itu berakibat buruk atas pengambilan asumsi dan kriteria rancang bangun.
Seperti dikatakan Prof Tejoyuwono, PPLG adalah usaha yang ambisius yang muncul dari penalaran yang sederhana, dibuat tergesa-gesa, mewujudkan keinginan penguasa menjawab tantangan pembangunan pertanian. (Entin Supriati).
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


