Hutan-hutan Indonesia adalah rumah yang paling aman bagi spesies tanaman dan satwa darat. Mereka membentuk berbagai ekosistem yang berperan bagi kesehatan bumi. Sementara spesies baru terus ditemukan, spesies yang telah dikenal seperti orangutan, badak jawa dan harimau sumatera terancam punah karena kehilangan habitat alaminya.
Keanekaragaman hayati nusantara mengundang seorang Ilmuwan Biogeografi asal Inggris, Alfred Russel Wallace menetap dalam kurun 1850an hingga 1860an. Wallace terkesima oleh keunikan spesies yang beragam jenisnya.
Kenangan atas Wallace memunculkan istilah Garis Wallacea yang memotong Sulawesi hingga Bali sebagai garis batas pemetaan. Pria yang memperkenalkan spesies burung halmahera (Semioptera Bidadari) ini kerap disandingkan dengan nama besar Charles Darwin, saat membicarakan asal-usul spesies dan biologi evolusi.
Kebanggaan Wallace dimasa lalu, agaknya tak akan berlangsung lama bila hutan terus dirambah untuk kepentingan investasi. Kerusakan hutan adalah salah satu penyebab utama perubahan iklim dunia, faktor kedua setelah konsumsi energi manusia.
Setiap tahun, sekitar 1,8 miliar ton dari emisi gas rumah kaca menjadi penyebab perubahan iklim yang dilepaskan karena perusakan dan pembakaran lahan gambut, sekitar 4 persen dari total emisi gas rumah kaca dari lahan yang kurang dari 0,1% luas bumi.
Bagaimana dampak buruk bagi spesies seperti orangutan? Spesies ini hanya dapat ditemukan dikawasan hutan tropis, Kalimantan dan Sumatera yang kini terancam punah. Penebangan hutan yang dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit adalah salah satu pemicu penurunan secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Perkiraan terbaru mengatakan bahwa antara 45.000 dan 69.000 orangutan di Kalimantan dan tidak lebih dari 7.300 orangutan Sumatera yang hidup di alam bebas.
UNEP, Badan Lingkungan PBB mengkategorikan jumlah orangutan di Kalimantan berada dalam bahaya, artinya resiko kepunahan terjadi dalam waktu dekat. Jumlah orangutan Sumatera dikategorikan kritis sehingga resiko kepunahannya sangat tinggi. Orangutan tidak hanya beresiko kehilangan hutan sebagai tempat tinggalnya, namun juga kehilangan sumber makanan alami.
Laporan Greenpeace pada 2010 mengatakan, orangutan harus berjuang untuk bertahan hidup dengan memakan tanaman kelapa sawit muda. Akibatnya orangutan yang kelaparan itu dipandang sebagai pengganggu atau hama oleh produsen, sehingga para pekerja perkebunan membunuh orangutan secara liar untuk menjaga lahan perkebunan.
Pusat Perlindungan Orangutan menyebutkan, setidaknya 1.500 orangutan mati di tahun 2006 akibat serangan senjata tajam yang dilakukan oleh para pekerja perkebunan dan hilangnya habitat asli, akibat perluasan perkebunan kelapa sawit.
“Tidak hanya spesies yang dirugikan. Masyarakat adat juga akan kehilangan hak hidup mereka. Seperti masyarakat adat Papua, tidak mendapatkan manfaat apa-apa pun dari pengalihfungsian hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Mereka hidup dengan cara meramu hasil hutan dan berburu dihutan. Hutan Papua merupakan hutan terakhir yang kita punya,” ujar Bustar Maitar, Senior Forest Campaigner Greenpeace. (Farida Indriastuti)
Prakiraan pemanasan suhu minimum sekitar1,2'C dalam 100 tahun terakhir sementara cuaca ekstrim menyebabkan permukaan laut naik 10 hingga 20 sentimeter sejak era industri. Pencairan es beku di Greenland dapat menaikkan permukaan laut hingga 7 meter. Dalam 50 tahun hingga 100 tahun ke depan, intensitas badai lebih ganas sementara daerah pesisir makin padat. Ini berarti potensi korban makin banyak.
Dalam laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), peningkatan curah hujan di dataran tinggi dan penurunan curah hujan di dataran rendah yang sebagian besar adalah kawasan pertanian di sub tropis. Dengan demikian maka hasil panen di kawasan tersebut dipastikan mengalami penurunan.
Kawasan mid-continental seperti daerah pertanian di Amerika serikat dan sebagian besar Asia, secara berangsur lahan menjadi kering. Sementara itu, meskipun mengalami kenaikan suhu lebih kecil, daerah pertanian di Afrika mengalami penurunan hasil panen lebih drastis.
Dalam jangka panjang IPCC memperkirakan intrusi air laut lebih besar karena kenaikan permukaan air laut. Saat ini intrusi air laut telah mengganggu sumber air tawar di Israel dan Thailand serta pulau-pulau kecil di kawasan Pasifik, Samudra Indian laut Karibia serta kawasan delta yang paling produktif di dunia, yakni delta Yangtze di Cina dan Mekong di Vietnam.
Dalam beberapa dekade mendatang sebanyak 25 persen spesies mamalia langka di dunia dan 12 persen jenis burung akan hilang. Karena tidak mampu bertahan dengan suhu yang lebih panas di hutan, lahan basah dan populasi manusia menghalangi migrasi alami hewan tersebut.
Salahsatu sentimen penting dari isu pemanasal global adalah rasa keadilan. Negara-negara industri yang kaya seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat serta beberapa negara di Asia seperti Jepang, adalah yang paling bertanggungjawab menghasilkan emisi rumah kaca.
Sementara negara-negara kaya menikmati standar hidup yang tinggi, pemanasan global yang salahsatunya disebabkan oleh emisi rumah kaca sudah dipastikan mendera kehidupan manusia di negara miskin.
Kesengsaraan itu disebabkan karena ketidakmampuan sumberdaya untuk menghadapi badai, banjir, kekeringan, wabah penyakit dan kekurangan sumber air dan makanan.
Negara miskin bukannya tidak berusaha keluar dari lingkaran tersebut namun lebih sulit karena tidak kunjung selesai mengatasi akibat perubahan iklim. Padahal negara-negara miskin hampir dipastikan tidak banyak berkontribusi terhadap pemanasan global namun justru yang terdepan dalam menerima akibatnya. (entin supriati)
Sebagai upaya menghemat energi fosil, kincir angin menjadi salahsatu sumber alternatif. Namun sebuah penelitian menyebutkan, kincir angin yang dipasang secara besar-besaran justru mengganggu aliran angin secara normal. Sehingga pada lokasi tersebut suhu justru naik.
Penelitian yang dipublikasikan Atmospheric Chemistry and Physics secara online pad 22 Februari menyebutkan bahwa kincir angin dapat memenuhi 10 persen kebutuhan energi global pada tahun 2100. Namun dapat menaikkan suhu hingga satu derajat Celsius di lokasi tersebut. Biasanya di daerah pertanian. Suhu juga akan meningkat di kawasan sekitar kincir angin. Namun jika kincir tersebut dipasang di perairan justru dapat menurunkan suhu hingga satu derajat Celsius.
Hasil analisa menyebutkan putaran kincir mengurangi kecepatan hembusan angin di lahan pertanian tempat biasa kincir dipasang. Aliran angin yang terganggu biasanya pada permukaan tanah. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya kekuatan gerakan turbulensi dan proses pemindahan panas secara horizontal yang membawa serta panas permukaan bumi.
Dengan demikian panas permukaan bumi yang dipindahkan ke atmosfir makin berkurang. Hal serupa juga terjadi pada daerah lain yang mendapat aliran angin dan kawasan tempat kincir beroperasi. Efeknya kurang lebih seperti angin pantai pada musim panas. Jika angin menghilang atau berhembus pelan, maka pantai terasa lebih panas. (entin supriati).
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


