Lahan basah, dalam pengertian Wetlands International adalah kawasan dimana air menutupi permukaan tanah atau jika pun tidak menutupi, maka air tersebut berada disekeliling lahan, bisa berupa air musiman atau tersedia sepanjang tahun. Tidak ada tipe ekosistem yang dapat menyamai kawasan lahan basah menjalankan fungsi vital sebagai rumah bagi jutaan burung migrasi, kehidupan ikan, amfibi, serangga, tanaman dan pohon.
Hanya enam persen kawasan berupa lahan basah di muka bumi. Beberapa katagori yang termasuk diantaranya adalah rawa, danau dangkal yang permanen atau tidak dengan sedikit aliran alir seperti danau air asin atau terbentuk karena letusan gunung api. Kemudian daerah pesisir, yakni wilayah perbatasan antara daratan dan laut terbuka namun tidak terpengaruh oleh aliran sungai. Yang termasuk pesisir adalah hutan bakau dan terumbu karang. Selanjutnya adalah estuaria atau muara dan anak-anak sungai yang lebih menyerupai danau kecil di kaki bukit.
Di setiap negara dalam zona iklim apapun dari mulai wilayah kutub hingga kawasan tropis, lahan basah menyediakan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan dan berkembang. Karena daerah pertanian amat tergantung dari aliran air yang disediakan oleh sungai, danau, rawan, lagun pesisir, muara bahkan sistem irigasi buatan manusia pun tidak terlepas dari keberadaan lahan basah.
Meskipun keberadaan lahan basah bagian dari keberlangsungan hidup namun kerusakannya sebanding dengan kecepatan pertumbuhan populasi manusia. Tipe kerusakan bervariasi, dari mulai alih fungsi hutan bakau menjadi tambak udang, sistem irigasi intensif, pembakaran lahan untuk perkebunan sawit hingga penimbunan situ untuk lahan apartemen,
Dari catatan UN-Milennium Ecosystem sekitar 50 persen lahan basah menghilang sejak tahun 1900. Sampai 50 tahun pertama abad 20, sebagian besar kerusakan terjadi di zona Utara. Namun sejak tahun 1950-an kerusakan di daerah tropis menyusul sangat cepat.
Alasan utama kerusakan masif itu adalah ekonomi dan ketidakkonsistenan kebijakkan pemerintah dalam membangun sistem pengairan pertanian, pemukiman, urbanisasi, polusi dan perburuan hewan.(entin supriati)
Kemampuan menyerap panas pada 10 kaki atau sekitar 3,3 meter permukaan laut teratas setara dengan kemampuan seluruh atmosfir. Namun perhatian saat ini lebih terarah ke atmosfir karena paling cepat mendatangkan pengaruh buruk bagi manusia, meski sebenarnya lautan lebih berperan mengontrol iklim dunia.
Dengan luas sekitar 70 persen dari permukaan bumi, lautan dapat diibaratkan sebagai global thermostat, menyimpan energi dari matahari, menjaga perubahan suhu bumi tetap nyaman dan secara gradual menekan perubahan iklim.
Panas dan kelembaban dari lautan secara konstan bertukar dengan atmosfir bumi dalam menjaga cuaca dan iklim. Menurut para pakar dari NASA, ada empat faktor yang mengendalikan suhu di berbagai lokasi bumi. Yakni, jarak dari garis khatulistiwa, ketinggian permukaan daratan, rasio antara tanah dan air serta lautan.
Suhu rata-rata di daerah yang dilewati garis khatulistiwa sekitar 10'C lebih tinggi daripada daerah non khatulistiwa.Demikian juga dengan suhu di kutub utara lebih hangat di banding kutub selatan. Karena di kutub utara ada fraksi ketinggian daratan tropikal sehingga lautan membawa air hangat lebih banyak.
Karena perbedaan kapasitas panas antara air dan udara di permukaan laut maka dapat memodifikasi sirkulasi atmosfir yang sejauh ini dapat mempengaruhi pola cuaca global. Seperti dikutip dari Environmental News Network, interaksi in menjadi penyebab munculnya fenomena alam El Nino dan La Nina.
Pola iklim di lautan Pasifik agak ekstrim setiap empat hingga 12 tahun sekali. Perubahan ini membawa dampak hebat bagi lautan dan atmosfir. Untuk bumi, akibat yang ditimbulkan adalah cuaca tidak menentu, kekeringan dan banjir. Bahkan juga dapat menaikkan dan menurunkan suhu rata-rata. El Nino adalah karakteristik suhu lautan yang dilewati garis khatulistiwa. Suhunya lebih hangat. Sementara La Nina adalah kebalikannya. (entin supriati)
Masalah limbah industri kerapkali memunculkan polemik lingkungan, bila tak ditangani hati-hati. Alasan itulah dilihat sebagai peluang bisnis oleh beberapa pengusaha. Salah satunya, PT. Multi Hanna Kreasindo yang bergerak dalam industrial waste solution. “Perusahaan kami masih tergolong muda, karyawan tak lebih dari 150 orang,” ujar Gema Fitriyano, Marketing Executive PT. Multi Hanna Kreasindo.
Namun beberapa perusahaan nasional dan multinasional telah menggunakan jasa perusahaan ini untuk mengolah limbah industrinya, seperti: Good Year, Panasonic, Nusa Metal, Hitachi, Showa Indonesia dan lainnya. Limbah padat diolah menjadi alumunium, baja, hingga emas batangan atau perhiasan perak.
Proses pengolahannya terdiri dari berbagai tahap, tergantung bentuk limbahnya. Tahapnya begitu panjang, seperti Waste Generator, berupa contoh limbah dari setiap industri dipilah dalam dua. jenis, yang bisa diolah atau tidak. Setelah pemilahan limbah selesai kemudian diangkut ke pabrik pengolahan limbah.
Lalu diklasifikasikan dalam hazardous liquid waste (limbah cair beracun) dan non hazardous waste (limbah padat tak beracun). Limbah cair beracun diproses menjadi air yang kadar racunnya dihilangkan, sehingga bisa dibuang ke sungai dan tak mencemari lingkungan. Sedangkan limbah padat memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Bisnis pengolahan limbah ini memegang lima prinsip dasar yakni Re-Think, Re-Use, Recycle, Recovery dan Reduce. Selain berkontribusi dalam konservasi lingkungan dan berorientasi pada green jobs. Kedepan, PT. Multi Hanna Kreasindo bersiap dalam pasar global yang berfokus pada waste management industry. “Jadi tak hanya slogan saja, dalam pekerjaan kami harus menerapkan pola hijau,” tutur Gema.
Tak berbeda dengan PT. Multi Hanna Kreasindo, PT. Prasadha Pamunah Limbah Industri – Waste Management Indonesia. Perusahaan ini pun bergerak dalam bidang pengolahan limbah industri. PPLI-WMI pun mengolah limbah padat dan cair dari berbagai industri besar. “Tapi kami tak bisa mengolah limbah explosive, mercury yang sifatnya terwujud dan radioaktif yang murni, “ Yurnalisdel, Regional Sales Manager.
Dalam kapasitas pengolahan limbah, PPLI-WMI tergolong perusahaan yang cukup besar dan memiliki potensi bersaing di pasar global. Sebab, sistem pengolahannya menggunakan teknologi Jepang. PPLI-WMI merupakan anak perusahaan Dowa Eco Systems Co. Ltd, perusahaan yang telah berdiri di Jepang sejak 120 tahun lalu, serta mendedikasikan usahanya pada environment management dan recyling.
Bisnisnya tidak terbatas pada pengolahan limbah industri, tapi juga mengembangkan penelitian ilmu lingkungan, teknologi lingkungan dan konsultan di bidang lingkungan. PPLI-WMI merupakan Modern Asia Environment Holdings yang memegang 95% saham, sisanya 5% saham dimiliki oleh Pemerintah Indonesia (BUMN). “Tahun depan, kami bersiap mengolah limbah industri telpon seluler (Hp) menjadi emas batangan berkadar 99,99%, “ imbuhnya.
Limbah tak selalu berdampak buruk bagi lingkungan, bila diolah dengan baik dan sesuai Amdal (Analisis Dampak Lingkungan). Pemerintah sebagai pemangku kepentingan diuntungkan atas kerjasama ini, begitu pun pihak swasta. Bahkan lingkungan sosial di masyarakat. “Dalam waktu dekat PPLI-WMI bersiap mengembangkan energi alternatif dari pengolahan limbah untuk masyarakat yang kekurangan pasokan listrik. Ini bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) pada masyarakat, “jelas Yusnalisdel. Sesuai dengan prinsip PPLI-WMI sebagai perusahaan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan lingkungan dan teknologi lingkungan, “Returning the Environment to The People of Southeast Asia” . (Farida Indriastuti).
Industri ini mempekerjakan ilmuwan untuk mempelajari masalah lingkungan, pegawai pemerintahan yang berkutat dengan hukum lingkungan serta pihak-pihak yang menngerjakan masalah lapangan. Sektor yang paling intensif adalah pengendalian polusi. Melibatkan penciptaan, manufaktur dan pengoperasian alat pengendali polusi di pabrik, usaha pertanian, rumah tangga, dan industri yang memiliki pusat pengolahan limbah, unit pemisahan sampah padat dan berbahaya serta alat pemurni air.
Di Amerika Serikat, bisnis pengendali polusi sudah mencapai diatas 200 miliar dolar per tahun, tidak termasuk untuk penelitian dan pengembangan sumber energi alternatif, program pencegahan erosi dan penghijaun hutan kembali. Lebih dari satu miliar dolar dihabiskan untuk taman nasional.
Beberapa sektor dalam bisnis lingkungan lebih memilih mempekerjakan manusia dibanding mesin. Menanam pohon, patroli perlindungan satwa liar, memberi pendidikan masyarakat, adalah diantara jenis pekerjaan yang hanya bisa dilakukan manusia.
Pekerjaan berkaitan dengan lingkungan semestinya mendapat insentif terutama pada negara yang memiliki masalah pengangguran. Pada tahun 30-an, pemerintah Amerika Serikat membentuk beberapa taman nasional dan pusat satwa liar, salahsatu alasannya adalah untuk mengurangi pengangguran era Depresi Besar. Ribuan penduduk Cina mendapat pekerjaan ketika pemerintahnya menjalankan program penanaman hutan kembali secara besar-besaran.
Proyek-proyek lingkungan pada usaha pertanian, peternakan dan kehutanan adalah lapangan kerja potensial bagi masyarakat miskin pedesaan yang kehilangan pekerjaan karena modernisasi pertanian yang serba mesin.
Di Indonesia, pengelolaan sampah tradisional terutama yang berkaitan dengan daur ulang plastik mempekerjakan banyak pemulung dan rantai penampungnya. Banyak usaha sejenis, tidak tercatat secara resmi dan nyaris tanpa perlindungan apapun. (Entin Supriati, berbagai sumber)
Stratosfir adalah lapisan ozon yang rusak akibat kenaikan suhu yang merupakan salahsatu dampak buruk pemanasan global. Ini adalah lapisan paling atas, semakin dingin sehingga proses pemulihan alami ozon makin lambat.
Dalam laporan NASA seperti dikutip situs globalissues.org, pada tahun 2030, chlorofluorocarbon atau CFC adalah faktor utama penyebab perubahan iklim yang memberi kontribusi besar pada kerusakan lapisan ozon.
Fungsi utama lapisan ozon adalah melindungi semua mahluk hidup di bumi dari pengaruh buruk sinar matahari. Pada perkembangannya, lapisan di atmosfir ini makin rusak dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan lubang ozon di Antartika tiga kali luas benua Amerika dan akan terus bertambah.
Dari catatan para pakar di NASA lebih dari 60 persen lapisan ozon yang menyelimuti Lingkar Arctic hilang pada musim dingin tahun 1999-2000. Pada 9-10 September 2000, lubang ozon menganga tepat di wilayah pemukiman. Yakni Punta Arenas di selatan Cili. Kota dengan sekitar 120 ribu penduduk itu terkena langsung radiasi sinar ultraviolet tingkat tinggi.
Kerusakan lapisan ozon berkaitan langsung dengan kesehatan. Terutama menyebabkan kanker kulit pada manusia dan hewan. (Entin Supriati).
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


