Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Issues

 
 
1. Manusia Sehat Perlu Hutan Sehat

 

 

Sebagai pendukung kehidupan manusia, luas hutan makin susut.  Bahkan salahsatu alasan pembabatan adalah untuk meningkatkan standar hidup manusia. Luas hutan di dunia sekira 27 persen dari total daratan.

 

Dari data Population Reference Bureau, hutan di Eropa dan Amerika Selatan sekitar setengah luas wilayah daratannya. Sementara di Afrika, Asia dan Oceania hanya seperempat dari luas daratan. Padahal di kawasan inilah sebagian besar penduduk bumi tinggal.

 

Dari sekian banyak definisi dan kriteria hutan sehat pada intinya bermuara pada kemampuan hutan sebagai rumah ekologi  bagi kehidupan hayati. Semakin banyak ragam tumbuhan, hewan dan mikroorganisme, maka hutan tersebut tergolong sehat.

 

Secara sosial hutan sehat mampu mengakomodasi kebutuhan manusia saat ini dan mendatang. Namun hutan tidak akan mampu menjalankan fungsi sosialnya tanpa pengelolaan kapasitas untuk tumbuh, reproduksi, dan daur ulang nutrisi tanah.

 

Kondisi yang terjadi saat ini adalah, masyarakat yang tinggal sekitar hutan atau tepatnya di negara miskin dan berkembang selalu dihadapkan dengan akibat buruk pembalakan hutan. Nilai ekonomi dari kegiatan babat hutan mengalir ke kelompok berkemampuan ekonomi tinggi dengan standar hidup jauh diatas penduduk dunia ketiga.

 

Terlepas dari ketidakadilan ekonomi akibat kerusakan hutan, satu akibat yang dirasakan seluruh manusia di permukaan bumi adalah perubahan suhu.

 

Pohon tumbuh menyerap karbon dari atmosfir dan disimpan pada jaringannya. Pada saat hutan dibabat atau dibakar, karbon tersebut dilepaskan kembali ke atmosfir sebagai karbondioksida. Lapisan itu mengalangi lintasan energi matahari ke bumi, pada akhirnya menyebabkaan suhu naik.

 

Hutan menyimpan 40 persen karbon, lebih banyak dari ekosistem teresterial lainnya. Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), konsorsium yang beranggotakan para pakar dan disponsori PBB, menyatakan bahwa pembalakan hutan tropis menyumbang 20 persen emisi karbon sejak tahun 1990-an.

 

Jika tidak dikendalikan, pemanasan global akan mencairkan es di kutub utara dan menaikkan permukaan air laut.  Akibatnya, jika permukaan air laut naik 150 sentimeter, Bangladesh akan kehilangan 16 persen daratan dan sedikitnya 34 juta penduduk akan kehilangan tempat penghidupan. (entin supriati)

 



 
2. Mari Berpaling Ke Batik Alam


 

UNESCO menetapkan batik tulis sebagai karya warisan dunia (cultural heritage). Teknik pembuatan motif batik secara manual dengan canting dianggap unik, bernilai artistik tinggi, serta hanya terdapat di Indonesia. Tradisi leluhur yang telah berumur ratusan tahun inilah yang dikembangkan oleh Creative Kanawida diajang Pameran Eco Product 2010 di JHCC.

 

Usaha mandiri “Creative Kanawida” yang digagas oleh Sancaya Rini, berfokus pada konsep kain dan pewarnaan alami. Secara geografis, Indonesia didukung oleh kekayaan hayati yang beragam dan tak terbatas jenisnya. Berbagai bahan pewarnaan alami dapat disarikan dari beraneka dedaunan, kayu, kulit buah dan akar-akaran dari pepohonan seperti, mahoni, salam, dan secang. Selain itu, daun rambutan, daun mangga, serta kulit buah jengkol. 

 

Hasilnya, warna-warna semburat kuning, coklat dan hijau, meski kesannya buram tak secerah pewarna olahan pabrik. Bahan kain pun diolah dari berbagai jenis serat yang berasal dari tanaman, seperti serat nanas dan serat pisang, selain wool dan  sutra.

 

Sumber pewarnaan alami pun berbiaya rendah, juga ramah lingkungan. Batik alam diproduksi secara tradisional dengan mengandalkan keahlian tangan manusia, prosesnya tergolong lambat. Satu kain batik dengan motif klasik yang rumit bisa menghabiskan waktu satu bulan lebih, tergantung panjang kainnya. “Tentu produktifitas kami rendah, karena variasi warnanya terbatas. Kami mengandalkan alam, cuaca dan keahlian pembatik, “ujar Rini. 

 

Alhasil, proses batik ini terbilang panjang dan melelahkan. Sayang, bila konsep batik ini  tak memiliki daya dukung yang kuat di masyarakat.  Harga batik tulis dengan pewarnaan alami memang jauh lebih mahal dibanding batik cetak atau  olahan pabrikan. Creative Kanawida pun bergegas menjalin kerjasama dengan balai penelitian ITB, CSR, UKM dan sejumlah departemen, diharapkan terjadi sosialisasi di masyarakat. “Paling tidak masyarakat peduli dan mengenal konsep batik alam ini dulu, “tegas Rini. 

 

Konsep batik alam ini tak hanya berfokus pada produksi atau inovasi. Tetapi berpikir jauh ke depan, bagaimana mengolah limpah lilin atau bensin bekas batik yang terbuang. Akhirnya, kerjasama Creative Kanawida dengan Balai Penelitian ITB membuahkan hasil. “Pengolahan limbah harus tuntas dan efektif biotreatment dan chemical treatment-nya, “ujar Renni Subardi, peneliti ITB.

 

Proses pengolahan limbahnya tak terlalu rumit, bahkan tak membutuhkan tenaga ahli serta berbiaya murah. Sistem pengolahan limbah produksi batik alami ini diadopsi dari pengolahan sampah organik rumahtangga. “Selain mengolah limbah, hasil akhirnya juga memberikan nilai ekonomis karena bisa dijadikan pupuk. Ayo beralih ke batik alam yang lebih ramah lingkungan! “ajak Renni mengakhiri perbincangan saat Talkshow “Batik With Natural Dye”. (Farida Indriastuti).

 



 
3. Mata Rantai Perusak Hutan Indonesia

 

Selama tiga minggu Greenpeace mengkampanyekan produk-produk makanan olahan yang berkontribusi merusak hutan. Sebut saja, produk dari Nestle dan Kitkat. “Mereka memutuskan kontrak dengan Sinar Mas, namun masih disuplai oleh pihak ketiga,” tegas Bustar Maitar, Senior Forest Campaigner Greenpeace.

 

Kehancuran hutan tropis untuk industri kelapa sawit, pulp dan kertas merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca dengan menempatkan Indonesia sebagai urutan ketiga di dunia, setelah Cina dan Amerika Serikat. Selama setengah abad, lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah ditebang, dibakar dan dirusak.

 

Greenpeace mencatat, permintaan global untuk minyak sawit melonjak. Minyak sawit menjadi pilihan minyak nabati untuk digunakan dalam proses pembuatan makanan, kosmetik dan bahan bakar nabati atau biofuel. Permintaan minyak sawit diperkirakan akan berlipat ganda pada 2030 dan tiga kali lipat pada 2050. 

 

Dalam laporan UNEP tahun 2007 ditemukan fakta bahwa perkebunan kelapa sawit adalah faktor utama perusak hutan tropis dan lahan gambut di Indonesia. “Karena itu Greenpeace mendesak pemerintah sebagai pemangku kebijakan, untuk menghentikan ekspansi perusahaan-perusahaan dalam membuka perkebunan kelapa sawit baru dengan merambah hutan tropis dan lahan gambut. Bukan berarti menghentikan operasi perkebunan sawit yang telah ada,“ ujar Bustar.

 

Kegiatan deforestasi perusahaan seperti Sinar Mas, menyumbangkan dampak besar terhadap kehidupan lokal dan keberlangsungan pangan. Selain menyebabkan kerusakan pada keanekaragaman hayati serta menyumbangkan perubahan iklim global yang ekstrim, juga mengancam lahan gambut yang mengandung karbon dalam jumlah besar. Diperkirakan, rata-rata emisi tahunan yang disebabkan oleh degradasi gambut untuk perkebunan minyak kelapa sawit Sinar Mas pada satu provinsi, misalnya Riau mencapai 2,5 juta ton karbondioksida atau CO2.

 

Rantai perusakan hutan tidak hanya pihak pertama. Tetapi juga bagi pihak kedua dan ketiga yang bermitra sebagai pembeli minyak sawit. Inilah lingkar permasalahan dari industrial yang tak berujung.

 

Nestle yang telah memutuskan kontrak dengan Sinar Mas, perusahaan sawit terbesar kedua di dunia. Bahkan, Nestle yang kerap menyatakan kepeduliannya terhadap lingkungan global dan berkampanye tentang isu perubahan iklim melalui CSR perusahaan, telah melanggar standar pelestarian dan kode etik pemasok.

 

Seperti dikatakan Greenpeace Indonesia, Nestle telah ingkar janji dengan melanjutkan perdagangan dengan Sinar Mas melalui pihak ketiga, yakni perusahaan Cargill, salah satu pemasok komoditi global yang menjadi pelanggan utama ekspor minyak sawit Sinar Mas di Riau. Serta IOI (Loders Croklaan), salah satu pemasok utama minyak sawit ke pabrik-pabrik Nestle.

 

“Kalau pemerintah tak merespon secara baik. Mustahil citra produk atau industri di Indonesia akan berubah dan dipercaya pasar internasional. Pemerintah harus mendorong industri menjadi lebih baik, ” tegas Bustar.  

 

Reputasi buruk Sinar Mas sebagai pengrusak hutan, lingkungan dan komunitas lokal, tak pelak membuat sejumlah perusahaan besar, seperti Unilever membatalkan kontrak bernilai 30 dolar  juta  Amerika dengan  Sinar Mas pada 2009. Tindakan serupa dilakukan oleh Kraft yang membatalkan kontrak pada awal 2010. Sainsbury’s dan Shell juga menyatakan bahwa mereka tidak lagi membeli minyak kelapa sawit dari Sinar Mas. (Farida Indriastuti).

 



 
4. Mengakrabi Perubahan Iklim

 

Musim kemarau yang menyengat, curah hujan yang tinggi berujung dengan banjir dan longsor, hembusan gelombang panas yang membakar dan angin topan di kawasan tropis menggulung semua benda yang dilewati adalah beberapa diantara akibat perubahan iklim.

 

Pada kehidupan sehari-hari, peningkatan suhu udara berarti pula memperbesar evaporasi dan atmosfir yang hangat dapat menahan kelembaban lebih lama sehingga pada saat diturunkan ke bumi dalam bentuk hujan menjadi sangat deras. Kondisi yang sama terjadi pula di daerah kering. Sementara tingkat penguapan tinggi namun hujan tidak turun di kawasan tersebut. Alhasil, makin lama makin kering dan wilayah gurun makin luas.

 

Curah hujan yang makin tinggi umumnya terjadi di bagian timur Amerika Serikat dan Latin, utara Eropa serta Asia bagian utara dan tengah. Sedangkan frekuensi badai tropis makin meningkat sejak tahun 1970 di laut Atlantik utara.

 

Musim kering makin panjang meliputi kawasan luas di Sahel, Mediteranian, utara Afrika dan sebagian Asia Tenggara.

 

Penurunan debit air di cekungan Nigeria, danau di Chad dan Senegal mencapai 40 persen hingga 60 persen. Sementara situasi gurun makin parah karena curah hujan dibawah rata-rata, erosi dan kelembaban tanah merosot. Ini terjadi di kawasan luas Afrika bagian utara dan barat.

 

Luapan sungai Rhine tahun 1996 dan 1997, banjir di Cina tahun 1998, genangan di Eropa timur tahun 1998 dan 2002, banjir luas dari Mozambik hingga Eropa tahun 2000 dan badai topan yang membuat 60 persen Bangladesh terendam tahun 2004 adalah sebagian contoh dari badai yang sangat kuat dan melanda hampir semua permukaan bumi.

 

Dingin abadi yang hangat

 

Wilayah yang sepanjang tahun dingin membeku tidak luput dari akibat buruk perubahan iklim. Rata-rata kenaikan suhu di Artik mencapai dua kali lipat dalam 100 tahun terakhir. Sejak tahun 1980, suhu permukaan yang beku abadi itu telah naik 3 derajat celcius. Bahkan di Artik yang masuk ke wilayah Rusia, sebuah gedung roboh karena lapisan beku tempat fondasi berdiri, mencair.

 

Salju di daaerah tengah dan dataran tinggi kutub utara berkurang 10 persen sejak tahun 1960. Demikian pula dengan gunung glasier dan salju abadi yang menutupi kutub utara dan selatan secara perlahan makin berkurang dan berkontribusi langsung dengan meningkatnya permukaan air laut. Data yang dievaluasi IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukkan proses itu berlangsung intensif sejak tahun 1993.

 

Rata-rata peningkatan permukaan air laut 1,8 milimeter pertahun antara 1961 hingga 1993. Namun sejak 1993 hingga 2003, meningkat 3,1 milimeter pertahun.

 

Kawasan salju abadi non kutub tidak luput dari gangguan iklim global. Secara umum volume glasier di Swiss menyusut hingga dua pertiga.

 

Musim kawin makin maju

 

Para pakar juga mencatat, perubahan iklim mempengaruhi setidaknya 420 proses fisik dan spesies biologi.

 

Di Alpen beberapa spesies tumbuhan bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi antara satu hingga empat meter dalam satu dekade. Beberapa tumbuhan yang hanya hidup di puncak gunung bahkan sama sekali sudah tidak terlihat lagi.

 

Di Eropa, musim kawin, bertelur dan menetas beberapa spesies burung lebih maju dibanding sebelumnya. Di Inggris, misalnya, dari 25 spesies termasuk burung migrasi jarak jauh, musim  bertelur maju hingga delapan hari. Ini terjadi antara tahun 1971 hingga 1995.

 

Di hampir seluruh kawasan Eropa, yang mana masa tanam dikontrol oleh musim, masa tumbuh tanaman lebih panjang 10,8 hari antara tahun 1959 hingga 1993. Sementara itu kupu-kupu, capung, dan insek lainnya memilih hidup di dataran tinggi. Padahal sebelumnya terlalu dingin untuk berkembang biak. (entin supriati)



  • Sorry, articles still empty...

  • Sorry, articles still empty...