Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Issues

 
 
1. Nairobi Framework, Penurunan Emisi Di Sub-Sahara

 

Salahsatu prakarsa dalam perubahan iklim global adalah Nairobi Framework. Program bertujuan membantu negara-negara berkembang terutama yang berada di sub Sahara Afrika dengan meningkatkan level partisipasi dalam mekanisme pengembangan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM). Yakni proyek penurunan emisi dengan cara penanaman pohon.

 

Diperkenalkan tahun 2006 saat Kofi Annan menjabat sebagai sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa. Pada Mei 2009 terdapat 30 proyek CDM di delapan negara dan diharapkan mampu mengurangi emisi karbondioksida hingga 50.765.223 ton pada tahun 2012. Nairobi Framework didukung oleh United Nations Development Programme (UNDP), United Nations Environment Programme (UNEP), World Bank Group, African Development Bank dan Secretariat of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC).

 

Dalam website unfccc.int disebutkab bahwa fokus Nairobi Framework adalah meningkatkan proyek-proyek CDM, mempromosikan kesempatan berinvestasi pada proyek proyek tersebut, bertukar informasi, edukasi, training dan kordinasi antar lembaga. Program pertama diluncurkan September 2007 didanai oleh Pemerintah Spanyol, Swedia dan Finlandia. Proyek senilai 1,5 juta dolar itu meliputi Etiopia, Kenya, Mauritius, Mozambik, Tanzania dan Zambia. 

 

Semua lembaga yang tergabung dibawah Nairobi Framework sepakat untuk membuat proposal program kerjasama dan mencari donor pendukung. Dalam proposal itu disepakati menghindari duplikasi program dan memperkuat sinergi. Nairobi Framework membuka peluang untuk sektor swasta berpartisipasi dalam CDM. Konsolidasi ini berhasil mendapat pendanaan 20 juta dolar dari Africa Biofuel and Renewable Energy Fund (ABREF). (Entin Supriati).



 
2. Nyamplung, Bahan Energi Alternatif Tumbuh Di Segala Kondisi


Tumbuhan ini ditemukan di tepi pantai. Oleh Badan Litbang Kehutanan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Departemen Kehutanan dicoba menjadi bahan biodiesel, sumber energi alternatif.

 

Tanaman pangan lebih dulu dikenal sebagai sumber energi alternatif namun dapat memicu krisis makanan dan produksi besar-besaran berarti pembukaan lahan baru. Sementara nyamplung atau bintangur tersedia begitu saja di pantai, menyukai tanah pasir berlempung. Struktur pohon rindang bercabang banyak dan tingginya kurang dari 20 meter. Mulai berbuah pada umur lima tahun, masa panen antara Juli hingga Desember.

 

Nyamplung dapat tumbuh pula di lahan tandus. Cukup toleran pada ketinggian 0-400meter diatas permukaan laut, tahan  dpl, tahan terhadap iklim kering hingga iklim basah bahkan  pada curah hujan 1000-3000milimeter. Dapat hidup pada keasaman tanah pH 4,0-7,4. 

 

Produksi biji kering per tahun dalam satu hektar mencapai 10-20 ton dengan jarak tanam 5 x 5m, setiap pohon menghasilkan 50-100 kg biji kering dan kadar minyak berkisar antara 40-60 persen.

 

Proses yang sesuai untuk pengolahan minyak nyamplung menjadi biodesel adalah ET atau esterifikasi-transesterifikasi. Dengan proses ET bilangan asam biodesel diturunkan, dari 61,92mg KOH/gmenjadi 0,66 mg KOH/g, demikian pula kriteria yang lainnya seperti viskositas, densitas, angka setana, titiknyala, residu karbon, belerang, fosfor, gliserol total, sisa gliserol total dan kabar ester alkil semuanya memenuhi standar biodesel SNI nomor 04-7182-2006 dan ASTM D 6751. 

 

Biodesel nyamplung telah dicoba di jalan menggunakan bus dan jip dengan jarak tempuh 300 kilometer. Biodesel nyamplung yang digunakan adalah B-100 atau biodiesel tanpa solar. Energi alternatif dari nyamplung ada di pameran memperingati Hari Keanekaragaman Hayati, 24-26 Mei 2010 di Manggala Wanabakti, Jakarta. (Farida Indriastuti).




  • Sorry, articles still empty...

  • Sorry, articles still empty...