Kalangan konservasionis menuntut Kementerian Kehutanan agar memenuhi tugas dan kewajibannya untuk menjemput pulang 11 orangutan muda yang kini dipelihara secara ilegal di Thailand. Ditemukan di sebuah kebun binatang milik pribadi oleh polisi kehutanan Thailand pada bulan February 2009 silam, keseluruhan orangutan tersebut adalah primata asli yang berasal dari hutan-hutan Indonesia, setelah dibuktikan melalui tes DNA beberapa waktu lalu.
Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi pemerintah Indonesia membiarkan kesebelas orangutan tersebut lebih lama lagi berada di Thailand, setelah induk mereka dibunuh dan mereka dicuri dari Indonesia. Balita orangutan itu milik rakyat Indonesia, bukan kepunyaan rakyat Thailand.
Seto Hari Wibowo, Campaign Manager dari Centre for Orangutan Protection menyerukan, “Kami menginginkan orangutan milik rakyat Indonesia tersebut segera dipulangkan ke Indonesia, jangan ditunda-tunda lagi. Rentang waktu empatbelas bulan hanya digunakan untuk menyelesaikan masalah dokumen dan tukar-menukar surat rasanya tidak bisa diterima akal sehat."
Sean Whyte, Chief Executive dari Nature Alert berpendapat, “Meskipun orangutan menjadi spesies yang sangat dilindungi baik di Indonesia maupun dunia internasional, tindakan tidak terpuji oleh para pedagang satwa yang menjagal induk orangutan lalu merampas serta menjual bayi orangutan ke pasar gelap hingga ke taman-taman satwa di Thailand, masih saja terus berlangsung. Spesies ini sudah selayaknya dipandang sebagai ikon nasional Indonesia, namun Kementerian Kehutanan malah tidak melakukan apa-apa untuk melindungi orangutan dari perburuan liar dan perdagangan gelap di luar negeri.
Orangutan merupakan spesies yang sangat dilindungi sebagaimana tercantum dalam Appendix 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix 1 mencakup satwa- satwa yang sangat mendekati kepunahan sehingga perdagangan hewan dalam daftar tersebut dilarang.
Taman-taman satwa di Thailand memang memiliki sejarah pembelian kehidupan liar secara ilegal. Pada tahun 2006, Safari World Animal Park di Bangkok ditemukan memiliki 100 orangutan, yang sebagian besar berusia muda. Oleh karena desakan lewat sebuah kampanye internasional, taman satwa tersebut terpaksa memulangkan 48 orangutan ke Indonesia.
Untuk lebih jelasnya tentang kondisi Orangutan, bisa dinduh melalui sebuah disitus berita di Thailand yakni http://www.nationalmultimedia.com. Kesebelas orangutan tersebut ditemukan di sebuah taman satwa yang juga mengoleksi buaya dan harimau dari seluruh dunia dalam sebuah razia oleh pemerintah Thailand pada tanggal 5 Februari 2009. (Farida Indriastuti, berbagai sumber).
Sepertiga emisi karbondioksida dari negara maju yang dilepaskan ke atmosfir berasal dari produk barang konsumsi dan jasa. Hasil penelitian pakar dari The Carnegie Institution of Science yan dirilis awal bulan ini menyebutkan sekira 2,5 ton karbondioksida dihasilkan oleh setiap orang di Amerika, sementara di Eropa mencapai 4 ton per orang.
Poin lain yang ditemukan pada penelitian Carnegie adalah seperempat dari jumlah total emisi karbon yang dilepaskan Cina adalah untuk memproduksi barang yang diekspor ke negara mitra salahsatunya adalah Amerika Serikat.
Munculnya kekuatan ekonomi baru seperti Cina dan India, sementara di lain pihak ada negara maju yang secara tradisi merupakan penghasil karbondioksida yakni Amerika Serikat dan Eropa, mempersulit mencari titik temu mengenai siapa yang harus bertanggungjawan dan bagaimana mengukur kompensasinya.
Jika Amerika Serikat, Eropa dan Jepang telah lama menikmati kemakmuran karena industrialisasi, mengapa negara-negara berkembang saat ini harus mengekang pertumbuhan ekonomi karena emisi karbondioksida.
Persoalan makin rumit karena sistem outsoursing. Sebanyak 11 persen barang konsumsi Amerika Serikat diproduksi di luar negara, sementara Swiss mencapai 50 persen. Dalam hal ini Cina adalah pabrik raksasa penghasil barang konsumsi untuk dunia.
Seringkali debat karbon ini saling menenggelamkan satu isu dengan lainnya. Sementara anjuran untuk kembali ke produk lokal dianggap mencederai perjanjian perdagangan internasional yang terkait dengan penyediaan lapangan pekerjaan di sejumlah negara. (entin supriati)
Hewan ini dapat hidup hingga usia 20 tahun. Seperti primata pada umumnya, Owa Jawa menyukai buah-buahan segar, serangga, dan daun muda. Kondisi Owa Jawa yang menghuni hutan hutan Jawa Barat, lereng gunung Slamet Jawa Tengah dan Dieng Jawa Timur tidak sebaik dulu.
Bandingkan dengan dengan kehidupan fauna di Afrika. Beberapa suara mendefinisikan dan mewakili ekosistemnya. Auman singa dan terompet gajah menjadi penanda ekosistem savana Afrika. Nyanyian kera dan monyet menjadi suara hutan Brazil. Seharusnya hutan di Indonesia juga mampu bersuara.
Hutan di Jawa masa lalu, tak kalah dengan Amazon. Suaranya diwakili lengkingan Owa Jawa yang dalam bahasa latinnya disebut Hylobates moloch, berbulu biru keperakan dan merupakan bagian keluarga Gibbon yang ada di Indonesia.
Lengkingan itu merupakan penanda teritorial. Owa Jawa adalah makhluk sosial, seperti halnya rata-rata keluarga primata, yang mempunyai teritori khusus. Bila ada yang menerobos, maka Owa Jawa akan mengeluarkan suara untuk mengusir si pengganggu. Jadi bisa dibayangkan, betapa bisingnya hutan-hutan di Jawa pada masa itu.
Kini, suasana riuh itu sirna. Hutan-hutan di Jawa telah banyak yang hilang dan beralih fungsi. Rapatnya permukiman penduduk dan lahan pertanian membuat habitat Owa Jawa makin terdesak. Owa Jawa tidak dapat dipaksa hidup dalam habitat yang sempit. Keberadaan mereka masih menghadapi ancaman lain, ditangkap untuk dijadikan peliharaan atau diperdagangkan.(Farida Indriastuti)
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


