Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Issues

 
 
1. Pangan Untuk 9 Miliar Manusia

 

Sekitar tahun 2050 penduduk bumi diperkirakan mencapai 9 miliar atau hanya dalam tempo 40 tahun dari sekarang warga dunia bertambah dua miliar. Diantara semua persoalan yang pasti timbul pertanyaan terbesar adalah bagaimana memberi makan sembilan miliar mulut manusia. Sebuah jurnal yang ditulis ilmuwan Inggris John Beddington dan dimuat pada majalah Science edisi bulan lalu memaparkan, apa yang harus diperbuat.

 

Pertambahan jumlah manusia dan daya dukung lingkungan tidak lepas dari apa yang dinamakan bencana Mathusian atau Mathusian Catasthrope , yakni teori yang dikemukakan ekonom yang mendalami politik, Thomas Mathus. Teori ini awalnya adalah mendorong kembali ke kondisi substansial ketika populasi manusia tidak seimbang dengan produksi pertanian.

 

Pemilik teori yang meninggal tahun 1834 telah melihat jauh kedepan namun tidak memasukkan faktor revolusi industri, yang diantaranya berhasil meningkatkan teknologi kedokteran dan pertanian yang sejauh ini dapat mengantisipasi bencana kemanusiaan secara global. Selain juga menimbulkan pengaruh buruk seperti polusi dan pemanasan global.

 

Untuk mencegah krisis pangan datang lebih cepat, diskusi pakar dalam jurnal tersebut menyarankan beberapa perubahan cara hidup dan produksi pangan. Diantaranya adalah meningkatkan hasil panen dengan menanam tanaman unggulan, menggunakan pupuk, bibit baru dan pestisida. Baik bibit hasil rekayasa genetika maupun pestisida memiliki potensi bahaya jangka panjang. Namun hal tersebut tidak hapat dihindari.

 

Selanjutnya adalah mengubah gaya hidup menghamburkan makanan. Penelitian menyebutkan sekitar 30 persen hingga 40 persen makanan di dunia berakhir menjadi sampah. Di negara miskin, hal tersebut karena pengelolaan yang tidak baik, ruang penyimpanan yang tidak memadai. Di negara maju, makanan menjadi sampah karena porsi makan yang lebih besar dari kemampuan santap. Demikian juga dengan kebiasaan membuang makanan yang mendekati masa kadaluarsa. Ini adalah akibat dari belanja yang melebihi kebutuhan.

 

Mengurangi konsumsi daging berarti pula membuka peluang menyantap sayur lebih banyak sehingga mata rantai produksi daging yang menghabiskan banyak energi dapat dikurangi. Kemudian adalah menunda pemanasan global selama mungkin akan berpengaruh terhadap produksi makanan. (entin supriati).



 
2. Pemanasan Global Dari Tungku Kayu

 

Sekitar dua miliar penduduk bumi masih mengandalkan kayu bakar untuk memasak. Makanan segera habis disantap namun kerak hitam dari asap yang menempel di dinding akan terus ada dan makin tebal.

 

Di lingkungan rumah tangga, kerak hitam itu menganggu sistem pernafasan dan kualitas udara secara keseluruhan. Bila kerak karbon dari kegiatan memasak dua miliar manusia digabung, berkontribusi nyata terhadap pemanasan global.

 

Seperti dikutip dari www.enn.com, karbon hitam yang dihasilkan dari kayu bakar juga mesin disel ternyata memberi pengaruh lebih besar dari yang diperkirakan selama ini terhadap pemanasan global. Karena partikel hitam tersebut menyerap dan menyimpan panas permukaan bumi. Alhasil, dalam lingkungan yang kecil pun partikel itu akan memancarkan panas.

 

Dua miliar manusia atau sepertiga penduduk bumi tidak memiliki akses penggunaan energi modern, masih memasak seperti cara-cara jaman Prometheus. Dari jumlah tersebut hampir semuanya tinggal di negara berkembang dan miskin. 

 

Maka sebenarnya, mengurangi pemanasan global tidak terlalu sulit. Dengan memberikan akses energi modern yang sederhana, sudah banyak berperan mengurangi pemanasan global. (entin supriati)



 
3. Pemanasan Global Tidak Signifikan Dengan Populasi Penduduk

 

Jika perubahan iklim dikaitkan dengan populasi penduduk sepertinya telunjuk mengarah ke Cina dan India. Mantan Presiden Amerika Serikat George Bush sering menyatakan enggan menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca jika negara berkembang, maksudnya adalah Cina dan India tidak melakukan hal y ang sama.

 

Sekutunya, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyuarakan sentimen yang sama. Demikian juga dengan mantan Perdana Menteri Australia John Howard yang menolak ratifikasi Protokol Kyoto karena alasan yang sama seperti diutarakan Presiden Bush.

 

Dari perhitungan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi serta kebutuhan energi dan material, sepertinya tanggungjawab besar di pundak Cina dan India. Padahal akumulasi emisi gas rumah kaca di atmosfir saat ini adalah hasil tabungan dari beberapa dekade lalu, yang dihasilkan oleh era industri negara-negara kaya saat ini. Seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.

 

Seperti dikutip dari BBC, penduduk Cina hanya mengkonsumsi energi 10-15 persen dari rata-rata warga Amerika Serikat. Sementara menurut Boston Globe, emisi yang dihasilkan seorang penduduk Amerika Serikat setara dengan 13 warga India.

 

Tidak mengherankan jika negara berkembang keberatan sebagai target sasaran negara maju. Negara berkembang bersikukuh menjalankan jalur yang berbeda meski salahsatunya adalah teknologi pembersih dan berkelanjutan. Ini dikenal dengan prinsip umum namun mempunyai tanggungjawab berbeda. seperti dikutip dari situs globalissues.org, poin tersebut hampir tidak pernah didiskusikan. (Entin Supriati, berbagai sumber)



 
4. Perdagangan Karbon, Komoditas Baru Pemanasan Global

 

Inilah istilah yang sering disebut-sebut dalam setiap perundingan pemanasan global. Populer sejak muncul di Protokol Kyoto, merupakan komitmen UNTUK menerima target membatasi atau mengurangi emisi pada periode 2008-2012. Jumlah emisi yang diizinkan dibagi dalam assigned amount units (AAU).

 

Perdagangan emisi seperti yang tercantum pada pasal 17 protokol Kyoto, mengizinkan negara-negara yang mempunyai kuota emisi namun tidak seluruhnya digunakan, untuk menjual ke negara yang telah melampaui target. Karena karbondioksida adalah gas rumah kaca yang populer, maka komoditi baru ini disebut sebagai perdagangan karbon. Demikian seperti dikutip dari www.unfccc.int.

 

Ada banyak unit emisi yang diperdagangkan dibawah skema Protokol Kyoto. Unit lain dapat pula ditransfer dengan mengkalkulasikan setara dengan satu ton karbondioksida. Seperti istilah berikut ini.

 

A Removal Unit atau RMU, untuk aktifitas penggunaan lahan, pengalihfungsian lahan dan hutan. Selanjutnya adalah istilah yang An Emission Reduction Unit atau ERU digerakkan oleh proyek penerapan bersama (joint implementation). Serta A Certified Reduction atau CER yang merupakan aktifitas proyek mekanisme pengembangan bersih (clean development mechanism). Proses transger dan akuisisi semua unit tersebut dicatat dalam sistem registrasi dibawah Protokol Kyoto.

 

Untuk menjawab keprihatinan terhadap pihak-pihak yang bisa saja terlalu banyak menjual dan tidak dapat memenuhi target penurunan emisi, maka setiap negara yang terlibat harus menjaga ERU, CER, AAU atau RMU dalam sistem registrasi nasional. Cara ini dikenal sebagai commitment period reserve, yang tidak boleh berada dibawah 90 persen dari jatah. (entin supriati).



 
5. Perubahan Iklim Masih Dipandang Sebelah Mata: Pakar IPCC

 

Para pengambil kebijakan masih belum menganggap perubahan iklim sebagai potensi bahaya yang akan berdampak buruk pada kehidupan manusia. Salah seorang penulis A Very Inconvenient Truth, Charles H. Greene, profesor dari Cornell University menyebutkan bahwa jika manusia bisa menghentikan produksi emisi rumah kaca , dengan konsentrasi yang telah ada saat ini, pada akhir abad 21 suhu dunia tetap akan naik 4,3 derajat Fahrenheit atau 2,4 derajat lebih tinggi dari masa sebelum era industri.

 

Greene beserta koleganya membuat kesimpulan atas laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) badan dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

 

Pada kenyataannya, emisi bukannya berhenti justru bertambah besar yang berarti potensi kenaikan suhu makin potensial menimbulkan bencana, kecuali masyarakat dunia menemukan cara lain untuk menekan laju suhu bumi.

 

Profesor Greene yang merupakan pakar ilmu bumi dan atmosfir mengatakan fungsi lautan sebagai penetralisir panas bumi melambat karena kadar gas emisi yang tinggi. Bahkan jika emisi berhasil dihentikan saat ini, fungsi lautan tetap akan lambat. Ini berarti kenaikan suhu hingga akhir abad ini tidak mudah dikembalikan ke semula bahkan hingga ribuana tahun mendatang.

 

Mengurangi atau menghentikan emisi gas rumah kaca tidak cukup untuk menekan resiko perubahan iklim, masyakat dunia diharapkan memperluas penelitian geoengineering untuk membuang gas rumah kaca yang telah bercokol di atmosfir. 

 

Profesor Greene menegaskan bahwa solusi geoengineering hanya sebagai tambahan upaya. Reduksi emisi besar-besar tetap harus dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari dampak buruk perubahan iklim. (Entin Supriati).

 



  • Sorry, articles still empty...

  • Sorry, articles still empty...