Kualitas udara perkotaan selalu menjadi bahan keluhan meski sebenarnya seringkali kualitas udara dalam ruang lebih buruk daripada diluar. Ini disebabkan oleh puluhan ribu partikel bahan kimia baik sintetis ataupun alami yang terdapat pada berbagai produk yang ada dalam ruangan. Beberapa tergolong beracun kelas berat namun sebagian besar masuk dalam katagori tidak jelas atau wilayah abu-abu.
Kontaminasi udara dalam ruangan disebabkan oleh VOC (Volatile Organic Compound), bahan kimia yang dapat menguap. Terdapat pada sebagian besar perabotan dari mulai dinding, karpet, cat, produk pembersih, perkakas yang dilapisi antinoda dan antikerut. VOC dapat menyebabkan penyakit pernafasan seperti asma, kanker, kerusakan syaraf dan sistem reproduksi.
Pertanyannya kemudian apakah VOC dan polutan lain dalam ruangan seperti jamur atau asap kayu dapat menyebabkan sakit. Terlihat seperti saling mendukung namun sebenarnya tergantung situasi. Yakni jenis polutan, kesehatan penghuni secara umum, berapa lama terkena polusi. Kombinasi ini akan makin buruk jika ada faktor lingkungan lain dan genetik.
Meski belum ada jawaban jelas, para ahli seperti dikutip dari www.enn.com mengatakan lebih baik menghindari atau meminimakan singgungan dengan polusi kimia. Apalagi jika memiliki bayi, anak kecil, orangtua, penyandang asma, penyakit pernafasan dan mereka yang sensitif dengan bahan kimia.
Beberapa langkah pencegahan disarankan. diantaranya gunakan sedikit mungkin perabotan dalam rumah serta memilih yang rendah VOC. Membersihkan rumah secara reguler, sebisa mungkin tidak menggunakan sepatu dalam rumah. Terakhir, selalu percaya pada penciuman. Jika produk tersebut bau atau justru penuh wangi buatan, seharusnya dihindari. (entin supriati)
Dalam memilih produk rumah tangga sebaiknya tidak tergiur iklan atau harga namun perhatikan kandungan kimia-nya. Sebab dalam jangka panjang dapat berakibat buruk terhdap kesehatan dan keuangan. Semisal kandungan formalin (formaldehyde), zat kimia yang digunakan sebagai pengawet makanan olahan dan campuran pembuatan bahan-bahan bangunan. Seperti cat tembok, pelapis tripleks, papan panel dan lainnya.
Pelepasan formalin ke udara terbuka dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan tenggorokan, menyebabkan mual-mual dan sakit kepala. Studi The Chemical Institute of Toxicology dari Amerika Serikat pada 1980 menyebutkan bahwa paparan formalin menyebabkan penyakit kanker pada tikus-tikus percobaan.
Berikutnya, asap rokok. Berbagai studi kedokteran menyebutkan, rokok penyebab kanker paru-paru dan beresiko besar terkena jantung. Publikasi EPA mengenai Respiratory Health Effect of Passive Smoking: Lung Cancer and Other Disorders, menyebutkan bahwa setiap tahun paparan dari asap tembakau menyebabkan kematian ribuan penderita paru-paru perokok pasif dan menyebabkan kerusakan saluran pernafasan pada ribuan anak-anak.
Environmental Tobbaco Smoke (ETS) di Amerika Serikat menyebutkan bahwa rusaknya saluran pernafasan seperti bronchitis dan pneumonia terjadi pada ribuan balita. Studi Emory University di Atlanta menyebutkan 35 persen perempuan yang merokok selama masa kehamilan beresiko mempunyai anak cacat mental.
Jangan lupakan pula, dampak buruk dari pendingin ruangan (AC). Alat pendingin ruangan dapat menjadi sumber pencemaran udara, jika tidak dirawat secara berkala. Beberapa model AC portable menggunakan zat kimia seperti Freon yang dapat merusak lapisan ozon. Sedangkan AC sentral dapat menjadi tempat berkembang biaknya jamur dan bakteri yang menyebabkan tersumbatnya pipa atau saluran udara keluar ruangan. Jamur dan bakteri dapat mengakibatkan alergi serta perusakan saluran nafas.
Begitu juga Asbestos, merupakan kumpulan serat mineral yang mengandung silika yang kuat dan tahan terhadap panas. Asbestos digunakan antara lain untuk campuran semen, lantai dan eternit. Para pekerja yang berhubungan dengan asbestos berpotensi terkena penyakit asbestosis, yakni si penderita mengalami kesulitan bernafas gagal jantung. (Farida Indriastuti).
Penyebab udara kotor dalam ruangan biasanya karena pergerakan udara terbatas dan bahan-bahan bangunan yang beresiko mengeluarkan racun. Penelitian Departemen Energi Amerika pada 1987 menyebutkan polusi udara dalam ruangan bervariasi tergantung ventilasi, bahan bangunan dan perabotan. Karpet dan perabotan yang berumur lama berpotensi sebagai sumber pencemar udara, mengingat banyak polutan yang hinggap.
Karen Arms dalam bukunya “Environmental Science” yang diterbitkan oleh Sounders College Publishing, pada 1990, menyebutkan sumber polusi udara dalam rumah, antara lain:
- 1. Karbon Monoksida dari pembakaran yang tidak sempurna
- 2. Jamur dan bakteri dari AC yang tidak terawat
- 3. Asbestos dari pipa kabel langit-langit
- 4. Nox dari gas yang tidak sengaja keluar
- 5. Chlorine dari zat dari kimia pembersih kamar mandi
- 6. Radon222 dari batu yang mengandung uranium
- 7. Bensin dari kendaraan bermotor
- 8. Methylene chloride dari sisa cat dan tiner
- 9. Asap rokok dari rokok
- 10. Formaldehyde dari furniture, karpet, dan cat tembok
- 11. Para-dichloro benze dari pewangi baju (kamper) atau pewangi ruangan
- 12. Tetrachloroethylene dari cairan dry clean.
Unsur-unsur tersebut menjadi penyebab pencemaran udara seperti ditulis Karen Arms, seperti Karbonmonoksida (CO) bersumber dari segala sesuatu yang berhubungan dengan pembakaran, dapat menyebabkan polusi udara. Misalnya gas yang terbuang dari kompor gas serta asap knalpot dari kendaraan di dalam garasi.
Bahayanya bagi manusia, karena Karbonmonoksida merupakan gas beracun yang dapat mengakibatkan kematian dalam jumlah banyak. Gas ini tidak berwarna dan berbau. Tanda-tanda tercemar zat ini, antara lain: pusing dan sakit kepala yang menyerupai influenza, namun terjadi terus-menerus. (Farida Indriastuti).
Konsep Corporate Social Responsibilty (CSR) Unilever Indonesia mengacu pada dampak dan mata rantai dari produk yang dihasilkan oleh anak-anak perusahaannya. Seperti proses mencari bahan baku dan pengolahan di pabrik.
“Kami membina petani, awalnya hanya 6 orang saja. Kepada mereka diberikan edukasi mengenai perubahan iklim, bertanam kedelai hitam yang tidak laku di pasaran hingga hama. Saat ini petani binaan mencapai 7000-an. Dalam menjalankan program tersebut, kami bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia," kata Head of Corporate Communications PT. Unilever Indonesia Tbk. Maria Dewantini Dwianto
Dalam perbincangan Tanggungjawab Sosial Perusahaan dan Prinsip Ekonomi Hijau di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, di Depok, Maria menyebutkan misi sosial Unilever itu bertujuan meningkatkan kehidupan petani kedelai hitam dan meningkatkan kapasitas produksi.
Sementara itu General Manager Unilever Indonesia Foundation, Sinta Kaniawati menyebutkan pilar-pilar program yang digagas Unilever memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Seperti edukasi kesehatan hingga persoalan HIV/AIDS.
Kepedulian terhadap lingkungan dibuktikan dengan memutuskan kontrak kerjasama dengan Sinar Mas yang terbukti melakukan perambahan hutan konservasi dan lahan gambut menjadi perkebunan sawit.
Unilever tidak akan menggunakan minyak sawit dari perkebunan ilegal. ”Kami telah mengirimkan tim survey independen untuk meneliti, apakah minyak sawit pemasok-pemasok berasal dari perkebunan sawit yang bertanggungjawab atau tidak. Kami sedang menunggu hasil penelitian tim independen terkait soal Sinar Mas, ” jelas Sinta. (Farida Indriastuti)
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


