Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Logo
Society of Indonesian Environmental Journalist : SIEJ : Title
 
 
Issues

 
 
6. Aliran Air Berdampak Pada Hutang Perorangan Dan Gender

 

Jika kerugian finansial akibat air di dunia dibagi rata ke seluruh penghuni bumi, setiap orang mempunyai beban 50 dolar per tahun. Menurut statistik yang dilaporkan World Meteorological Organization (WMO), bencana yang disebabkan oleh air seperti badai, banjir dan kekeringan setidaknya menerpa sekitar dua miliar manusia selama kurun waktu 1991-2000. Sebagian besar korban berada di negara miskin dan berkembang.

 

Dalam skala negara, cuaca ekstrim memakan biaya besar dari mulai gagal panen, berkurang sumber daya listrik, transportasi dan infrastruktur lainnya. Kekeringan di Kenya, misalnya, sekitar 40-49 persen GDP-nya hanya untuk mentralisir dampak bencana. Demikian pula di Mozambik, GDP-nya turun hingga 23 persen akibat banjir besar tahun 1999. 

 

Tidak hanya manusia yang menjadi korban. Alam juga menderita. Iklim menjadi bagian penting bagi ekosistim akuatik apalagi yang tergantung pada fluktuasi curah hujan dan aliran air sungai. Dalam tahun-tahun terakhir, penggunaan air untuk konsumsi manusia, produksi makanan dan industri, meningkat yang berarti pula mengurangi simpanan air untuk kelangsungan ekosistem.

 

Masalah air menjadi isu jender pula. Secara tradisional wanita adalah pengelola kebutuhan air, makanan dan perawatan dalam rumah tangga. Maka apabila terjadi banjir atau kekeringan yang hebat, wanita-lah yang paling dulu merasakan getir. Bila sektor informal dan pertanian terkena dampak bencana alam, maka wanita yang paling dulu kehilangan pekerjaan.

 

Sektor informal yang dimaksud diantaranya adalah perawatan anak, pekerjaan rumah tangga atau usaha kecil rumahan. Jenis-jenis usaha seperti itu hampir tidak pernah menerima kompensasi bila terkena bencana alam. Di lain fihak jika upaya bantuan bencana difokuskan terhadap wanita seringkali menemui hambatan karena kurang keahlian, kemampuan mengurangi dampak buruk bencana alam. Jika bantuan diarahkan ke wanita, secara naluri wanita umumnya hanya akan menjelma menjadi dapur umum dan rumah menjadi tempat singgah pengungsi. (Entin Supriati).



 
7. Badak Jawa Hanya Tersisa 60 Ekor

 

Pada pameran konservasi keanekaragaman hayati yang digagas Kementerian Kehutanan, di gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, anjungan Balai Taman Nasional Ujung Kulon memperkenalkan Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus yang terancam kepunahan.

 

Hanya tinggal lima jenis spesies badak yang hidup di dunia, yakni badak hitam (Diceros bicornis), badak putih (Ceratotherium simum), badak india (Rhinoceros unicornis), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Dua jenis spesies badak terakhir hanya dijumpai di Indonesia. Badak sumatera hidup di pulau Sumatera dan badak bercula satu atau badak jawa terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon.

 

Spesies ini merupakan mamalia besar yang paling langka dan purba di dunia. Kini badak bercula satu hanya tinggal 60 ekor saja. Karena statusnya yang langka, badak bercula satu dimasukkan dalam daftar merah spesies yang terancam kepunahan oleh IUCN (IUCN Red List of Threatened Species).

 

Secara postur, badak bercula satu sangat tangguh berwarna abu-abu kehitam-hitaman, beratnya antara 900-2300 kilogram, panjang tubuhnya rata-rata 3 meter dan tinggi mencapai 170 cm. Fisiknya lebih besar, jika dibandingkan dengan badak sumatera atapun badak yang hidup di India.

 

Badak jawa memiliki satu cula diatas hidungnya. Panjang cula badak jantan jika diukur mengikuti lengkungannya bisa mencapai 25 cm. Sedangkan cula pada badak betina tidak tampak atau kecil. Hanya berupa tonjolan saja, memiliki tebal kulit 30 milimeter, dengan lipatan-lipatan yang memberikan kesan tubuh berperisai. (Farida Indriastuti).




 
8. Badan Air Simpanan Bumi Yang Multifungsi

 

Pengertian badan air adalah akumulasi di permukaan bumi seperti samudera, laut dan danau. Juga termasuk yang lebih kecil ukurannya seperti kubangan, situ dan lahan basah. Sementara sungai, jeram, kanal dan tempat dimana air mengalir dari satu lokasi ke lainnya tidak selalu dapat dinamakan badan air. Meskipun dalam istilah bahasa Inggris belum ada istilah tersendiri untuk air yang mengalir. Satu hal yang pasti bahwa air terjun dan geiser tidak memiliki kriteria untk disebut badan air.

 

Beberapa badan air merupakan buatan manusia seperti resevoir atau pelabuhan. Namun biasanya istilah badan air hanya diperuntukan bagi yang terjadi secaa alami dan merujuk pada permukaan geografi.

 

Beberapa badan air mengumpulkan dan memindahkan air dari sungai dan jeram, namun sebagian besar berupa air statis seperti yang terjadi di danau dan samudra.

 

Badan air yang digunakan sebagai sarana transportasi dinamakan jalur air atau waterway. Ada beberapa kriteria agar badan air dapat disebut dan digunakan sebagai waterway. Pertama harus cukup dalam sehingga bisa dilalui moda transportasi. Kendaraan air yang biasa digunakan bervariasi dari mulai sampan kecil hingga kapal tanker dan kapal pesiar.

 

Kriteria selanjutnya adalah harus cukup lebar sehingga beberapa moda transportasi bisa berpapasan tanpa harus saling tunggu. Kriteria lainnya adalah harus bebas dari gangguan atau halangan alami seperti air terjun atau potensi banjir tiba-tiba. (Entin Supriati, berbagai sumber).



 
9. Bagi-bagi ruang Keanekaragaman Hayati

 

Para ahli biologi memperkirakan ada sekitar 5 juta spesies mahluk hidup berbagi alam dengan manusia di bumi. Satu juta diantaranya akan musnah pada akhir abad ke-21, utamanya karena manusia menghancurkan wilayah hidupnya.

 

Sementara itu pertumbuhan populasi manusia akan menjadi nol pada akhir abad 21. Pertanyaanya kemudian apakah masih ada habitat dan spesies untuk mendukung kehidupan manusia pada saat itu.

 

Semua mahluk hidup memerlukan suhu yang ramah, air, sumber energi dan berbagai jenis nutrisi kimia yang ada di tanah, air dan udara. Seperti dikutip dari buku Karen Arms berjudul Environmental Science, 100 km dibawah kaki kita, tanah berwarna putih dan sangat panas, dan 30 km diatas kepala kita, udara sangat tipis oksigen dan terlalu dingin bagi mahluk hidup untuk bertahan.

 

Kondisi yang cocok untuk berbagai hidup berbagai organisme hanyalah selapis tipis permukaan bumi. Inilah yang dinamakan biosphere. Sejauh pengetahuan saat ini di wilayah yang setinggi 8 kilometer hingga ke atmosfir masih ditemukan mahluk hidup. Demikian pula dengan 8 kilometer ke bawah permukan bumi atau dasar laut masih ditemukan bakteri.

 

Dengan 5 juta spesies dan tidak pernah terhitung berapa banyak jumlah mahluk hidup di bumi ini maka setiap manusia berinteraksi dengan mahluk hidup lainnya. Dari mulai tumbuhan atau hewan yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, hingga pohon raksasa yang ujungnya seperti menyentuh langit. Binatang yang merayap, terbang, melata, melompat dan sebagainya.

 

Bagaimana kita mengenal keanekaragaman hayati ini? Sejak jaman pra sejarah, manusia memberi nama dan menggolongkan hewan dan tumbuhan dalam berbagai cara. Dalam ilmu biologi modern, mahluk hidup dibagi dalam 5 kingdom. Yakni bakteri, protista, fungi, tumbuhan dan hewan. Virus tidak dapat digolongkan sebagai mahluk hidup karena tidak mempunyai struktur penting untuk bereproduksi. Virus hanya berkembang biak dengan menumpang pada sel hidup. (entin supriati)

 



 
10. Bali Road Map, Peta Negosiasi Perubahan Iklim

 

Hampir di setiap pertemuan tingkat internasional yang membahas masalah lingkungan, negara tuan rumah dipastikan memberi nama kesimpulan hasil perundingan. Bertujuan untuk mengenalkan paket hasil perundingan dengan pilihan kata yang akrab di telinga. Termasuk diantaranya Bali Road Map.

 

Hasil kesimpulan dari konferensi yang diselenggarakan United Nations Climate Change (UNCC) di Bali Desember 2007 itu mencerminkan sejumlah keputusan untuk masalah iklim. Termasuk diantaranya Bali Action Plan (BAP) yakni tata cara untuk proses negosiasi perubahan iklim. Serta Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex Parties under Kyoto Protocol disingkat AWG-KP, meluncurkan program Adaption Fund serta keputusan untuk transfer teknologi serta mengurangi emisi dari pembalakan hutan.

 

Konfererensi yang diikuti lebih dari 10 ribu peserta dari 180 negara berlangsung selama dua pekan. Terdiri dari sesi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), dan pertemuan badan dibawah Protokol Kyoto. Sedangkan minggu kedua adalah segmen pertemuan tingkat menteri.

 

Pada konferensi tersebut disetujui proses kompehensif untuk mengimplementasikan kesepakatan dalam Convention menjadi kerjasama jangka panjang. Yakni berbagi pandangan untuk menekan emisi karbon, meningkatkan mitigasi perubahan iklim, adaptasi, pengembangan teknologi dan menyediakan sumber dana dan investasi guna mendukung aksi mitigasi, adaptasi dan kerjasama teknologi.

 

Disepakati pula empat pertemuan untuk mengimplementasikan Bali Road Map. Dua pertemuan diselenggarakan tahun 2008 disusul konferensi di Poznan Polandia, Desember 2008. Kemudian disusul oleh konferensi di Kopenhagen Denmark tahun 2009. (entin supriati).

 



  • Sorry, articles still empty...

  • Sorry, articles still empty...