Trenggiling dan Virus Corona

July 10, 2020
Ilustrasi Trenggiling/ freepik image

Tenggiling atau Trenggiling merupakan hewan mamalia dari ordo Pholidota yang tidak henti-hentinya diburu dan diperdagangkan. Nilai jualnya yang tinggi serta seluruh tubuhnya dipercaya mengobati segala macam penyakit menjadi penyebab hewan kian punah di habitat aslinya.

 

Satu kilogram daging trenggiling yang dijual ke China dapat dibandrol dengan harga 3-4 juta rupiah, sementara untuk sisik dijual dengan harga 4-5 juta rupiah per kilogramnya. Pada kasus yang sama terkadang bisa dijual hingga 1.200 dollar AS atau setara dengan 16 juta rupiah per kilogram. Sedangkan sisiknya dijual dengan harga 3.000 dollar AS atau 40 juta rupiah per kilogram.

 

Meski dinyatakan sebagai satwa liar yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Trenggiling terus menjadi santapan para penggila daging manis Javanica itu. Masyarakat konservasi satwa liar atau Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia menyatakan seluruh tubuh trenggiling dianggap sebagian masyarakat memiliki khasiat meski belum dapat dibuktikan secara ilmiah.

 

Pada daging dipercaya dapat meningkatkan stamina dan menyembuhkan penyakit jantung dan gangguan hati, sisik bagi kalangan masyarakat China digunakan untuk obat tradisional guna penyembuhan rematik dan kanker, dan lidah dalam mitos di Tapanuli dan Karo kerap digunakan sebagai jimat untuk pelaris dagangan.

 

Dalam pemantauan Wildlife Conservation Society (WCS) alur perdagangan terdeteksi dari tingkat lokal hingga internasional. Menurut WCS bisnis ini melibatkan banyak pelaku dengan tingkat serta peran yang berbeda-beda. Dari pemburu, penampung yang berperan sebagai eksportir, hingga melibatkan perantara pihak ketiga atau makelar.

 

Pada jalur darat, modus yang kerap digunakan pelaku agar lolos dari penegak hukum yakni dengan menyelundupkan trenggiling menggunakan kendaraan, lalu menumpuknya dengan barang lain sehingga tidak tampak ada hewan yang dilindungi dalam dalam mobil angkutan umum maupun angkutan barang bahan pokok. Modus lainnya, berganti kendaraan setiap memasuki wilayah baru. Para pelaku biasanya melakukan aksinya sepanjang perjalanan. Mereka bahkan memalsukan nomor kendaraan agar tidak curigai pihak kepolisian.

 

Setelah itu, mereka akan membawa ke penampung besar atau tempat untuk persiapan ekspor. Lokasi penampungan ini sulit dideteksi karena aksesnya tertutup oleh siapapun kecuali pemburu dan pedagang. Beberapa lokasi penampungan bahkan dijaga dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi. Penampungan ini juga disebut sebagai kompleks pergudangan yang dilengkapi dengan perlengkapan pengolahan daging, lemari pendingin dengan kapasitas besar. Bahkan dalam gudang itu sering ditemukan trenggiling dalam keadaan hidup.

 

Sementara pada jalur laut, prosesnya melalui jalur nelayan atau menggunakan kapal yang disewa, tak jarang juga para pelaku menggunakan kapal barang untuk menghindari petugas pelabuhan. Menurut WCS ada empat jalur yang sering digunakan untuk membawa trenggiling ke luar negari, seperti Sumatera,  Kepulaua Riau, Kalimantan, dan Jawa. Wilayah yang dituju seperti China, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Hongkong.

 

Sel-sel yang terputus itu membuat penegakan hukum terhadap kejahatan perburuan dan perdagangan trenggiling sulit ditindak hingga ke level eksportir. Kepolisian hanya berhasil meringkuk pelaku pada tataran operasi tangkap tangan atau mereka yang kedapatan membawa trenggiling untuk dijual. Sementara para pemilik gudang maupun pelaku kejahatan yang melibatkan jaringan internasional sering kandas dari radar penciuman aparat penegak hukum.

 

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, WCS mencatat sebanyak 102 kasus pemanfaatan illegal trenggiling dengan melibatkan 143 pelaku yang berhasil diungkap oleh penegak hukum. Rinciannya, dua kasus pada 2010-2012, sebelas kasus pada 2013. Kasus ini terus mengalami peningkatan, puncaknya pada 2019 sebanyak 21 kasus ditindak aparat kepolisian. Total sebanyak 9.434 individu trenggiling diamankan sebagai barang bukti. Para pelaku tidak hanya menjual daging maupun sisik trenggiling. Pada bagian tubuh lain ditemukan seperti lidah (29 organ), kulit dan usus (25 organ), ginjal (7 organ), taxidermy (6 organ) tidak luput dari bisnis gelap ini.

 

Dari kasus tersebut, 92 pelaku dinyatakan sudah divonis baik pidana maupun denda, lima pelaku dalam proses penyidikan dan persidangan, empat pelaku sebagai saksi, tiga pelaku berstatus DPO ( Daftar Pencarian Orang), dan 39 pelaku dikategorikan tidak ada data. Para pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

 

Rata-rata vonis hukuman penjara berkisar tiga bulan sampai dengan limabelas tahun. Sementara mereka yang divonis denda dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Vonis mulai dari 500 ribu rupiah hingga 800 juta rupiah.

 

WCS menilai pemanfaatan trenggiling illegal yang masih terus terjadi lantaran masih lemahnya penegak hukum untuk memberantas perburuan maupun perdagangan trenggiling. Vonis yang dijatuhkan belum sebanding dengan kerugian kerusakan alam karena hilangnya ordo Pholidota ini. Pada habitat hidupnya, trenggiling dewasa dengan berat 6,6 pon atau 3 kg, dapat mengonsumsi lebih dari 0,66 pon rayap dalam sekali makan. Berkat nafsu makannya yang besar, satu trenggiling dapat melindungi area seluas 31 lapangan sepak bola (41 hektar) dari kerusakan rayap.

 

Hilang Habitat Picu Zoonosis

 

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menduga trenggiling menjadi salah satu inang perantara penularan virus SARS-NCoV-2 selain lewat kelelawar. Jalur perdagangan yang berganti dari habitat hingga ke manusia dengan rute yang berkelok-kelok memungkinkan penyebaran virus corona dari trenggiling ke manusia. Seperti diketahui, pasar Seafood Wuhan, provinsi Hubei merupakan lokasi penemuan virus corona pertama kali. Pasar ini merupakan area yang aktif menjual satwa liar, termasuk trenggiling.

 

Hal tersebut sejalan dengan peneliti dari Universitas Pertanian Cina Selatan. Mereka menemukan daging trenggiling yang dijual sudah bercampur dengan hewan liar lainnya. Mengutip Reuters, wabah virus corona, selain melalui konsumsi kelelawar juga dapat melalui menu trenggiling. Di negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia itu, kebutuhan akan daging trenggiling cukup tinggi diperkirakan sekitar 100-150 kilogram pertahun. Angka itu membuat tindakan pemburuan satwa dilindungi semakin tinggi.

 

Jurnal Proceeding of Royal Society menyebut aktivitas perburuan dan perdagangan illegal satwa liar serta perusakan habitat keanekaragaman hayati menjadi pemicu berlimpahnya penyakit menular atau zoonosis. Seperti diketahui zoonosis merupakan wabah yang disebabkan oleh penularan virus dari hewan liar ke manusia.

 

Membabat hutan dengan dalih membuka lahan untuk perkebunan sawit menjadi salah satu faktor hilangnya keanekaragaman hayati. Seperti diketahui, banyak perusahaan melakukan pembakaran hutan dan lahan untuk menanam sawit. Akibat dari semua itu, satwa liar yang bermukim di habitat asli satwa berpindah tempat. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu percepatan penularan wabah virus.

 

Jurnal Proceeding of Royal juga mengungkap bahwa sebanyak 140 virus telah ditularkan dari hewan ke manusia dan hewan tersebut masuk dalam daftar Merah Spesies terancam punah International Union for Conservation Nature (IUCN). Riset ini juga menjelaskan bahwa sekitar 70 persen penyakit manusia disebabkan oleh zoonosis.

 

Sedana dengan riset tersebut, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyatakan ada tiga faktor yang memengaruhi sebaran zoonosis dari satwa liar. Pertama keanekaragaman mikroba sawat liar dalam suatu wilayah tertentu; kedua, perubahan lingkungan; ketiga, frekuensi interaksi antara hewan dan manusia. Kesemuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. ketika satu faktor terganggu dipastikan zoonosis akan mudah menyebar.

 

Pembakaran hutan serta perdagangan trenggiling yang terus terjadi di Indonesia semestinya tidak dianggap remeh. Pemerintah harus menghentikan kerusakan hutan alam, memulihkan fungsi hutan serta menindak para pelaku kejahatan yang memperdagangkan satwa liar yang dilindungi. Tanpa itu rasanya sulit untuk menghentikan wabah zoonosis tidak menyergap manusia di waktu yang akan datang.

Add Your comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your Name *

Your Mail *

Your Comment*