JM-PKK atau Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Sukolilo, Jawa Tengah, dalam rilis pers-nya pada peringatan Hari Bumi 2010 bertajuk “Bumi dan Air: Milik Siapa?” mengingatkan pentingnya menjaga sumberdaya alam.
Bumi dan air pegunungan di kawasan Kendeng Utara telah menghidupi ribuan penduduk. Puluhan mata air digunakan warga untuk mencukupi kebutuhan 15.873,900 hektar sawah di Kecamatan Sukolilo dan 9. 603,232 hektar sawah di Kecamatan Kayen. Sumber air dari Pegunungan Kendeng juga dimanfaatkan oleh 91.688 jiwa warga di kecamatan Sukolilo dan 73 051 jiwa di kecamatan Kayen.
Terdapat banyak sumber mata air di setiap dusun di sepanjang Pegunungan Kendeng. Di desa Sukolilo terdapat 19 sumber mata air, Desa Gadudero (3), Desa Tompe Gunung (21), Desa Kayen (4), Desa Kedumulyo (1), Desa Mlawat (1), Desa Baleadi (3), dan Desa Sumbersuko (24). Rata-rata sumber mata air itu memiliki debit aliran dari 1 liter per detik hingga 178,90 liter per detik.
Air dari pegunungan Kendeng merupakan aliran dalam tanah pegunungan kapur (kars) menjadi harta berharga untuk dipertahankan. Sedangkan tanah pegunungan Kendeng Utara juga telah mencukupi kehidupan warga selatan Pati, yang memiliki lahan pertanian subur.
Dari data Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukolilo, sumber mata air dari pegunungan Kendeng telah memberikan pekerjaan bagi ribuan warga Kecamatan Sukolilo, dengan total pemasukan pada musim tanam pada 2009/2010 sebesar Rp. 167.882.650. 000. Selain itu, rata-rata tiap hektar tanah pertanian di wilayah ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 146 orang untuk tiap musim tanam.
Sayangnya, saat ini kawasan pegunungan Kendeng terancam, karena rencana industrialisasi di kawasan Pegunungan Kendeng Utara ini yang diatur dalam Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2009-2029 Provinsi Jawa Tengah.
Di satu sisi raperda tersebut memasukkan kawasan kars pegunungan Kendeng Utara sebagai area hutan lindung dan konservasi (pasal 63), sedangkan di sisi lain raperda menyebutkan bahwa kawasan kars Pegunungan Kendeng Utara masuk dalam kawasan industri dan pertambangan (pasal 82).
Karena itulah warga pegunungan Kendeng yang selama ini bergantung pada kekayaan bumi menuntut sikap tegas pemerintah di Peringatan Hari Bumi, 26 April lalu. Tuntutannya antara lain, pertama membatakan rencana Pegunungan Kendeng Utara menjadi kawasan pertambangan dan industri. Kedua, menuntut perubahan Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2009-2029 menjadi lebih aspiratif. Ketiga, menuntut semua pihak untuk melindungi bumi dan air di kawasan pegunungan Kendeng Utara dari para perusak lingkungan. (Farida Indriastuti).
Penyulingan air laut menjadi tawar bukan teknologi baru namun tetap menjadi cara tercepat untuk mendapat suplai jika kekurangan air minum. Dengan menggunakan metode osmosis terbalik, penyulingan air laut masih tergolong mahal. Kira-kira perlu lima kali lipat dibanding dengan mendapatkan air tawar dari sumber biasa di daratan.
Keasinan atau salinitas sumber air berdasarkan kandungan garam yang dihitung dengan ppm atau part per million. Berdasarkan parameter tersebut maka air tawar memiliki kurang dari 1.000 ppm, air tawar sedikit payau antara 1.000 ppm hingga 3.000 ppm. Air payau biasa 3.000 ppm hingga 10.000 ppm. Air payau dengan keasinan tinggi mempunyai kadar garam 10.000 ppm hingga 35.000 ppm. Sedangkan salinitas air laut diatas 35.000 ppm.
Kerusakan lingkungan bisa mengubah air tawar segar menjadi asin. Pada saat hujan turun, air mengalir membawa mineral tanah yang tidak bisa ditahan karena pepohonan ditebang. Sebaran air salin dibantu oleh sistem irigasi. Saat ini sekitar 30 persen air yang berada dalam sistem irigasi mempunyai masalah salinitas dan upaya pemurniannya memakan biaya yang tidak sedikit.
Dari catatan badan survey geologi Amerika Serikat www.ga.water.usgs.gov, hingga tahun 2002 terdapat 12.500 pusat pemurnian air atau desalinisasi, tersebar di 120 negara, menghasilkan 14 juta meter kubik air per hari atau kira-kira satu persen dari kebutuhan konsumsi dunia. Ini tidak termasuk penyulingan yang dilakukan oleh kapal-kapal besar yang berlayar dalam jangka waktu lama.
Cara menyuling air pertama kali dikenalkan oleh ilmuwan Arab pada abad ke-18, hingga saat ini pusat desalinisasi paling banyak pun atau 70 persen dari jumlah total terdapat di Timur Tengah yakni Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain. Kemudian di Afrika Utara yakni Libya dan Aljajair, mengkonsumsi 6 persen dari produksi air suling. Sisanya terdapat di negara-negara industri, diantaranya Amerika Serikat terutama negara bagian California dan Florida. (Entin Supriati, berbagai sumber).
Konflik air tidak akan pernah hilang karena kebutuhan lebih besar daripada ketersediaan. Sekitar 1,1 miliar manusia tidak memiliki akses air bersih yang layak, sementara gesekan kepentingan terhadap sumber air meningkatkan tensi politik. Tragedi kemanusiaan seperti genosida di Rwanda dan perang Darfur, Sudan tidak lepas dari air.
Sengketa air tidak mudah dijabarkan apalagi diselesaikan. Hukum lokal, nasional, internasional, kepentingan komersial, lingkungan, dan hak asasi membuat masalah air semakin komplek. Secara garis besar konflik air terbagi menjadi dua, yakni intrastate (dalam negeri) dan interstate (antar negara).
Konflik air intrastate biasanya terjadi antara dua pihak atau lebih, semisal petani dan industri. Sedangkan konflik interstate terjadi antar dua negara atau lebih yang berbatasan dan berbagi sumber air yang sama seperti laut, sungai dan basin.
Menurut catatan UNESCO konflik interstate saat ini terjadi di Timur Tengah, yang hanya memiliki satu persen dari persediaan air tawar dunia namun harus dibagi oleh oleh 5 persen dari total penduduk bumi. Air sungai Euphrate dan Tigris diperebutkan oleh Turki, Syria, dan Irak.
Sedangkan sungai Jordan memicu konflik diantara Israel, Lebanon, Jordania dan Palestina. Di Afrika, konflik air terkait sungai Nil diperebutkan oleh Mesir, Ethiopia dan Sudan. Hal yang sama terjadi di Asia Tengah. Konflik atas laut Aral terjadi diantara Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Tajikistan dan Kyrgyzstan. Diperkirakan suhu konflik akan terus memanas karena konsumsi air terus meningkat.
Sejauh ini sengketa air antar negara ditangani oleh lembaga internasional. Organisasi perdagangan dunia, WTO (World Trade Organization), menangani sengketa akibat keperluan komersial. Dengan catatan negara yang bersengketa adalah anggota WTO. Sementara lembaga dibawah PBB untuk masalah air yakni UN International Hydrologicala Program dibentuk untuk menjalankan manajemen pengelolaan sumber daya air yang efektif. (Entin Supriati, berbagai sumber).
Harga satu meter kubik air di Kopenhagen, Denmark, mencapai Rp. 90.700. Di negara-negara kering, seperti Kenya atau Ethiopia, menikmati sejerigen air dalam seminggu sangatlah langka, boleh dibilang suatu kemewahan. Di Indonesia, negeri tropis yang kaya sumber daya alam, setiap orang setidaknya membuang 144 liter per orang.
Kebutuhan air tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Standar aiir bersih secara fisik harus jernih, tidak berwarna, tawar, tidak berbau, bersuhu normal dan tidak mengandung zat padatan.
Secara kimiawi, kualitas air dinilai baik baik jika memiliki keasaman (pH) netral, serta tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), ion-ion logam dan bahan organik. Sedangkan dari segi biologis, air sebaiknya tidak mengandung bakteri penyebab penyakit (patogen) dan bakteri nonpatogen.
Bila memiliki sumber air keruh, sebaiknya tidak dibuang sia-sia. Berikut langkah menjernihkan air.
Pertama, sedikan pasir untuk menyaring padatan. Butiran pasir berukuran 0,2 – 0,8 mm. Jika sudah jenuh, pasir harus dibersihkan. Kedua, arang batok, terbuat dari tempurung kelapa atau kayu yang dibakar hingga jadi arang. Berguna untuk mengurangi warna dan bau. Ukurannya berdiameter 0,1 mm atau berbentuk bubuk. Jika air yang disaring sudah tidak jernih lagi, arang batok harus dicuci atau diganti.
Ketiga, kapur, tawas dan kaporit, disebut penggumpal atau koagulan. membantu menggumpalkan kimia pencemar menjadi endapan. Selanjutnya air disaring lagi dengan media lain. Keempat, penyaring lain, yang mudah didapat, yakni ijuk dan kerikil. Sedangkan media lainnya adalah zeoli, perlit dan logam tahan karat. (Farida Indriasturi, berbagai sumber).
Hanya 2,5 persen sumber air di bumi adalah air tawar. Sekitar 70 persen diantaranya berupa glasier di Antartika dan Greenland. Intinya, hanya 0,7 persen sumber air di bumi yang menjadi sandaran konsumsi lebih dari 6,5 miliar manusia dan mahluk hidup lainnya. Selesai..? Belum. Sebab ternyata 87 persen diantaranya dihabiskan untuk usaha pertanian.
Inti dari data statistik itu adalah bahwa penduduk bumi dihadapkan pada kekurangan sumber air. Katagori kurang sumber air itu apabila setiap manusia menggunakan kurang dari 1700 meter kubik air per tahun.
Dari data yang dimilik World Resources Institute Washington menyebutkan seperlima jumlah populasi manusia berjuang mengatasi kekurangan sumber air. Sementara seperempat jumlah penghuni bumi lainnya harus siap-siap menghadapi kekurangan air, yang ternyata sangat erat kaitannya dengan masalah ekonomi. Inilah yang terjadi di negara berkembang.
Masalah kekurangan sumber daya air diperburuk dengan laju pertumbuhan penduduk, urbanisasi, konsumsi air yang berlebih di negara-negara maju dan perubahan iklim yang makin menciutkan sumber air tawar.
Terlepas dari perilaku manusia, kondisi alam ikut menyumbang masalah kekurangan air ini. Curah hujan yang tidak merata menyebabkan distribusi air tidak seimbang. Misalnya, gurun Atacama di Cili hampir tidak pernah hujan sepanjang tahun sementara di Mawsynram, Assam India, curah hujan mencapai 450 inci per tahun. Padahal jika sumber air tawar di bumi dibagi rata, setidaknya setiap manusia mendapat jatah 5 ribu hingga 6 ribu meter kubik per tahunnya.
Ketidakmerataan curah hujan diperparah pula dengan tingkat penguapan yang beragam tergantung suhu dan kelembaban. Musim penghujan yang pendek namun deras, yang artinya air mengalir terbuang dan sedikit yang terserap bumi, dikombinasikan dengan tingkat penguapan yang tinggi serta sistem pengairan yang agresif menyebabkan tabungan air di perut bumi makin susut.
Putaran air di bumi tidak terlepas dari apa yang dinamakan siklus hidrologi, yang dimulai dari penguapan air dari permukaan laut atau tanah, selanjutnya udara membawa butiran uap itu ke tempat dimana awan berada. Proses selanjutnya adalah hujan yang bisa saja diserap kembali oleh tanah atau mengalir ke lautan. Proses selanjutnya berulang kembali. Sementara waktu yang diperlukan untuk mengisi ulanga air dalam tanah sangat bervariasi tergantung intensitas hujan dan daya serap tanah.
Menurut catatan pakar dari Oxford University, siklus hidrologi amat terkait dengan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir dan perubahan iklim. Termasuk diantaranya perubahan musim dan distribusi jatuhan hujan atau salju. Peningkatan penguapan air dan kelembaban tanah, perubahan jenis vegetasi, manajemen lahan, alih fungsi daerah pesisir dan lahan basah, serta efek karbondioksida pada tanaman.
Curah Hujan Meningkat, Daerah Tropik Akrab Bencana
Perubahan kondisi tersebut mendorong peningkatan curah hujan di daerah tropik dan dataran tinggi. Sementara di kawasan sub tropik terutama yang dilalui garis khatilistiwa, curah hujan umumnya turun. Karena itu, jika pengelolaan lahan tidak seimbang, kawasan tropis akan akrab dengan bencana yang disebabkan oleh air, seperti banjir, longsor, dan erosi permukaan tanah. Dalam kaitan lebih luas, faktor ini berpengaruh pada kemakmuran suatu negara terutama yang penghasilan utamanya masih mengandalkan sektor pertanian.
Untuk kawasan tertentu, kekurangan sumber air tawar dapat disebabkan pula oleh suhu musim dingin yang relatif hangat. Ini menyebabkan tabungan air beku berkurang sehingga ketika musim panas tiba, air yang dialirkan ke sungai berkurang. Pada kenyataannya suhu di bumi kian hari kian panas.
Penyusutan sumber air beku telah mulai terasa di kawasan Andes, Amerika Latin. Padahal sumber air minum sepertiga penduduk disana berasal dari tabungan air beku tersebut.
Sementara itu kemampuan alam untuk memurnikan air kembali tidak seimbang dengan laju urbanisasi, industri dan usaha pertanian. Padahal penurunan kualitas termasuk salahsatu penyebab kurangnya pasokan air bersih. Pada musim penghujan kualitas air menurun karena banjir berarti pula membawa nutrisi, penyakit dan polusi tanah. Pada akhirnya, mikroba berkembang biak di reservoir.
Penduduk yang berada di daerah pesisir, suplai air minumnya secara alami terkontaminasi oleh salinitasi. Berasal dari meningkatnya daerah permukaan air laut. Ketinggian air laut diperkirakan meningkat antara 14 sentimenter hingga 44 sentimeter diakhir abad 21. Ini berarti konsentrasi kadar garam pada air dalam tanah dan estuaria akan meningkat. (entin supriati).
Sorry, articles still empty...
Sorry, articles still empty...


